Kenapa Fotografer mau dibayar murah? Karena mereka mencintai pekerjaannya.

Belakangan ini banyak fotografer yang menyatakan bahwa mereka diminta untuk memotret dengan bayaran yang seadanya atau bahkan gratis. Sebuah riset menyimpulkan bahwa salah satu alasan/penyebab dari mengapa fotografer dibayar murah/seadanya adalah karena mereka mencintai pekerjaannya.

Saya pernah bekerja pada beberapa perusahaan sebelum akhirnya memutuskan untuk serius menekuni ranah fotografi sebagai sebuah profesi. Mulai dari posisi teknis (dibelakang meja hingga sampai turun ke lapangan kerja MIGAS di darat dan di laut), posisi product management, marketing, sales dan business development pernah saya jalani sepanjang sejarah karir saya bekerja di beberapa perusahaan nasional dan internasional, dan terakhir saya bekerja sebagai Territory Services Executive pada Microsoft Consulting Services Group di Microsoft.

Keputusan saya untuk menjalani profesi fotografer tidak lain tidak bukan adalah karena passion atau kalau mau hiperbolis; karena saya mencintai fotografi.

Pada sekitar tahun 2009 ketika saya mengutarakan niatan saya tersebut ke almarhum Kristupa Saragih, dia mengatakan: “Buat apa jadi Fotografer? Kamu ga akan kaya.” Hmm, bisa jadi hal itu benar, tapi memang kaya bukanlah hal yang saya tuju ketika memutuskan menjadi seorang fotografer.

Profesor Aaron Kay dan seorang kandidat Doktor; Jay Kim, dari Duke Fuqua School of Business menerbitkan hasil riset mereka yang bertajuk “Understanding Contemporary Forms of Exploitation: Attributions of Passion Serve to Legitimize the Poort Treatment of Workers”, yang dimuat pada Journal of Personality and Social Psychology.

Pada riset yang dilakukan atas 8 bidang studi dan melibatkan lebih dari 2.400 peserta, Kay dan Kim mendapati banyak bahwa orang yang merasa biasa saja (kalau tidak mau dikatakan normal) ketika mereka mengeksploitasi pekerja yang mencintai apa yang mereka lakukan. Hal tersebut yang oleh para ilmuwan disebut sebagai “passion exploitation”.

Pada studi pertama, beberapa responder menyatakan bahwa seorang seniman/pekerja yang “amat sangat mencintai pekerjaannya” rentan dieksploitasi oleh pelanggan/pimpinannya. Sedangkan kebalikannya, seorang seniman/pekerja yang “tidak mencintai pekerjaannya” akan susah untuk dieksploitasi.

Pada studi kedua, beberapa responder menyatakan bahwa lebih mudah untuk mengeksploitasi seseorang yang bekerja karena passion, contohnya seperti seni dan fotografi, ketimbang mengeksploitasi pekerja yang tidak terhubung dengan passion dari pekerja tersebut, seperti tenaga administrasi atau penagih utang.

Fotografer kerap menyatakan bahwa, orang tidak akan pernah meminta seorang juru/tukang ledeng untuk bekerja secara gratis. Hal ini menjelaskan bahwa fotografi/fotografer itu adalah sebuah pekerjaan yang dipandang sebagai “kerja karena cinta” sedangkan juru/tukang ledeng tidak. Mungkin keduanya bukan merupakan komparasi yang seimbang, namun kiranya dapat memberikan gambaran umum secara singkat.

“Para peneliti mendapati bahwa kecenderungan untuk mengeksploitasi passion itu muncul dari 2 sudut pandang, yaitu: ketika dapat melakukan sebuah pekerjaan (mis: fotografi) sudah merupakan upah yang layak, dan dilakukan secara sukarela,” seperti yang ditulis oleh Fuqua Insights. “Ini adalah sebuah contoh dari justifikasi pengupahan”.

Profesor Steven Shepherd dari Universitas Oklahoma yang turut menjadi kontributor dalam riset tersebut mencatat bahwa untuk memperbaiki (atau mencegah) “passion exploitation” dalam budaya masyarakat kita saat ini dapat dimulai dari diri kita sendiri, karena mengeksploitasi passion bukanlah sesuatu yang tidak lazim diantara kawan-kawan dan juga sanak keluarga.

“Kita semua dapat bertindak lebih tegas (baca: mengedukasi para calon klien potensial tentang jasa yang kita berikan) dan mencegah agar kita tidak terperosok dalam mengksploitasi passion terhadap karyawan kita, kawan-kawan kita dan bahkan pada diri kita sendiri,” demikian yang disampaikan oleh Shepherd.

Hasil riset tersebut diatas kiranya dapat menjadi bahan permenungan kita bersama, tidak hanya terkait pada profesi fotografer, melainkan pada semua bidang pekerjaan yang dilakukan berdasarkan passion.

Mungkin saja anda berpandangan bahwa rekomendasi dari riset tersebut bisa dilakukan bila tanpa persaingan yang “berdarah-darah”. Menurut saya, persaingan “berdarah-darah” tersebut bukan karena para calon pengguna jasa yang membuatnya, melainkan salah satu penyebanya adalah karena banyak dari kita (baca: para praktisi fotografi profesional) yang merasa sedemikian insecure sehingga rela melakukan apa saja demi mendapatkan sebuah pekerjaan, tanpa pernah berpikir panjang bahwa strategi tersebut akan berdampak buruk bagi keberlangsungan karyanya sendiri.

Pertanyaan yang mungkin relevan ditanyakan juga kepada semuanya adalah: “Sejauh apa kita bisa hidup sejahtera dari hal yang kita kerjakan sesuai passion?”

Dan video-video berikut ini mungkin bisa mencerahkan anda juga.

Semoga bermanfaat, tetap jepret dan “keep your passion living”.

Artikel ini saya alih bahasa secara bebas dengan penambahan seperlunya dari artikel aslinya di Photographers Get Lowballed Because They Love Their Jobs: Study.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.