Pada sekira pukul 04:15 WITA di tanggal 24 Agustus 2024, deru mesin kapal motor Mercy Teratai mulai reda dan terasa laju kapal juga melambat. Tidak lama berselang terdengar dari pengeras suara doa pagi yang dipanjatkan sebagai ungkapan syukur atas pelayaran kami.
Dan akhirnya setelah sekira hampir 10 jam pelayaran dari pelabuhan kota Manado, kami pun tiba di Pelabuhan Nusantara (nama yang sama dengan pelabuhan di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur) kota Tahuna, pulau Sangihe di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Kami sangat beruntung karena sepanjang pelayaran ketika itu, kondisi permukaan laut lumayan teduh sejak dari kota Manado hingga ke kota Tahuna, walau sesekali terdapat guncangan ringan karena pertemuan arus di sekitar pulau Siau dan Tagulandang. Karena biasanya antara bulan Agustus hingga Oktober, kondisi perairan di sekitar kepulauan Sangihe dan Talaud lumayan bergejolak karena musim angin barat.










Ketika kapal merapat di pelabuhan, kami tidak perlu buru-buru turun dari kapal dan menunggu seluruh penumpang, penjemput serta para pekerja angkut selesai dengan urusannya masing-masing di atas kapal. Metode menunggu itu sangat disarankan oleh kawan-kawan kami lainnya yang sudah terbiasa menggunakan jasa angkutan penyeberangan laut.
Selain untuk menghindari hiruk pikuk karena jumlah penumpang berdesakan dan barang bawaan yang turun lumayan banyak, juga agar kami bisa memastikan seluruh barang bawaan kami sudah dirapikan dan tidak ada yang tertinggal, serta agar kami terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.










Di pelabuhan Nusantara kami sudah ditunggu oleh Stenly Pontolawokang dan Riangly Frisky Humiang (yang biasa dipanggil Ungke). Kami mulai bergegas menuju ke Hayana; penginapan yang kami gunakan selama di bermalam di kota Tahuna yang berjarak sekira 10 menit dari pelabuhan Nusantara dengan menggunakan kendaraan roda empat yang kami sewa dari Ungke dengan tarif sewa Rp. 500.000,- per hari sudah termasuk pengemudi namun diluar biaya bahan bakar minyak.
Saya sangat merekomendasikan menggunakan jasa Ungke apabila butuh sewa kendaraan roda empat ketika berkunjung ke kota Tahuna yang dapat dihubungi melalui nomor telepon atau WhatsApp +62 812 40787734.
Nikmatnya ikan Tuna segar di Kahuis
Pada hari pertama di pulau Sangihe kami lebih banyak beristirahat, terutama bagi Chintya, Oki, Alvin dan Rio yang sehari sebelumnya menempuh perjalanan panjang dari Jakarta dan Bandung ke kota Manado dan langsung melanjutkan pelayaran ke pulau Miangas. Sembari mempersiapkan logistik tambahan seperti baterai, air mineral, perlengkapan pribadi lainnya hingga kudapan, yang akan kami butuhkan selama pelayaran dari pulau Sangihe ke pulau Miangas.
Hari pertama di Sangihe kami tutup dengan makan malam bersama di desa Kahuis yang terletak di Kecamatan Manganitu, sekitar 35 menit perjalanan darat dari kota Tahuna dengan menggunakan kendaraan roda empat.
Di Kahuis, kami berenam dijamu oleh Kak Wiliam “Itong” Landeng beserta keluarga dan warga di sana yang mayoritas merupakan nelayan ikan tuna sekaligus adalah penampung hasil tangkapan ikan tuna oleh para nelayan.
Ikan Tuna seharga puluhan juta dan perubahan iklim
Terdapat lima jenis ikan tuna yang ada di Indonesia, yaitu tuna mata besar (bigeye tuna), madidihang (yellowfin tuna), albakora (albacore), cakalang (skipjack tuna) dan tuna sirip biru selatan (southern bluefin tuna).

Dan desa Kahuis adalah salah satu titik konsentrasi para nelayan ikan tuna sirip kuning, yang hingga sekarang masih menerapkan cara tangkap tradisional, yang masih sangat mengandalkan kekuatan fisik dan kebaikan alam, seperti menggunakan tali nilon dan menggunakan layang-layang ketika sedang memancing, seperti yang dilakukan oleh Kak Itong dan saudara-saudara lainnya.


Kak Itong memiliki keahlian khusus yang jarang dimiliki oleh banyak nelayan, yaitu sebagai grader atau penilai kualitas ikan tuna.
Berdasarkan hasil penilaian kualitas ikan tuna itulah lantas Kak Itong akan menentukan berapa harga yang pantas untuk setiap kilogram dari ikan tuna tersebut. Harga rata-rata untuk satu ekor ikan tuna sirip kuning kualitas A dengan berat bersih 60 kilogram bisa mencapai harga sekira empat puluh juta rupiah hingga 60 juta rupiah.




Ikan tuna hasil tangkapan nelayan di sekitar perairan Sangihe itu kemudian dibawa ke kota Bitung untuk diproses lebih lanjut, baik untuk kebutuhan pasar lokal maupun ekspor.
Menurut Kak Itong dan para nelayan di Sangihe, sebenarnya akan lebih menguntungkan bagi para nelayan di sana kalau mereka bisa langsung mengekspor hasil tangkapan mereka. Namun karena dipengaruhi oleh banyak faktor maka baik para nelayan di pulau Sangihe ataupun di pulau-pulau di sekitarnya masih sangat tergantung dengan kota Bitung.
Salah satu hal yang menjadi faktor utama dari terjadinya hal tersebut adalah karena tidak tersedianya pabrik es batu yang sangat dibutuhkan oleh para nelayan di pulau Sangihe. Selain itu pasokan listrik yang lumayan sering padam turut berkontribusi terhadap produksi es batu yang hingga saat ini masih dilakukan secara terbatas dengan mengandalkan fasilitas lemari pendingin ukuran rumah tangga.
Selain persoalan di atas, yang saat ini juga menjadi masalah serius adalah perubahan iklim.
Percaya atau tidak, ternyata hal tersebut sangat berpengaruh terhadap pola kerja para nelayan, khususnya terkait dengan musim angin dan durasi melaut. Mereka mengeluhkan bahwa saat ini sangat sulit memprediksi kapan waktu terbaik untuk melaut.
Karena pada musim angin barat, praktis para nelayan di sana tidak akan bisa pergi melaut karena kondisi permukaan air laut dan gelombang yang bisa mencapai empat meter. Dan itu berarti akan sangat sulit untuk mencari ikan dan tentunya akan sangat berbahaya bagi keselamatan para nelayan.






Musim angin dan durasi melaut juga berpengaruh terhadap perbekalan yang harus disiapkan oleh para nelayan. Semakin lama mereka pergi melaut, maka akan semakin banyak pula pasokan logistik yang mereka harus siap dan bawa, seperti bahan bakar minyak, beras, air minum serta kebutuhan lainnya dan itu semua akan berujung pada berapa banyak uang yang harus mereka siapkan.
Faktor perubahan iklim membuat para nelayan harus semakin pergi melaut semakin jauh untuk bisa mendapatkan hasil tangkapan yang memadai dan bisa menguntungkan bagi mereka agar bisa menyambung kehidupannya.
“Akibat perubahan iklim, nelayan kecil dan tradisional dihadapkan pada sejumlah permasalahan: Pertama, nelayan tidak dapat memperkirakan waktu dan lokasi penangkapan ikan; Kedua, tingginya risiko melaut akibat cuaca ekstrem. Hal ini menyebabkan nelayan harus menangkap ikan lebih jauh dengan ketidakpastian dan risiko akibat badai ataupun gelombang besar akibat cuaca ektrem yang bisa terjadi kapanpun. Alih-alih mendapat hasil yang menguntungkan, bahkan sering tidak menutup biaya produksi yang dikeluarkan.” – Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia
Menurut Irvan Imamsyah (Supervising Editor CNN Indonesia) pada pelaksanaan gelar wicara dengan tajuk “Ekosistem Laut Berkelanjutan: Menanggulangi Dampak Perubahan Iklim pada Sektor Perikanan dan Kelautan di Indonesia”yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyampaikan informasi dari temuan para jurnalis terkait dengan dampak yang dihadapi oleh para nelayan karena perubahan iklim:
“ … nelayan banyak hutang untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka tidak bisa melaut dan banting stir. Soal nelayan yang banting stir jadi tukang ojek dan sebagainya, itu fenomena yang banyak terjadi di pesisir Jawa.”
Dan seperti di banyak daerah lainnya di Indonesia, biasanya para nelayan yang melaut itu merupakan sebuah kelompok. Setiap nelayan yang melaut memiliki perannya masing-masing, ada yang berperan sebagai penyandang dana atau pemodal, ada yang bertanggung-jawab terhadap kondisi perahu, dll.
Hasil tangkapan itu kemudian akan dibagi sesuai dengan kapasitas masing-masing, mulai penyandang dana yang mendapatkan pembagian hasil paling besar dan seterusnya.
Kisahnya akan saya sambung pada aritkel selanjutnya. Ikuti kisah lengkap Ekspedisi Indonesia Negeri Bahari; Energi Bagi Negeri pada tautan ini.
- Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia
- Ekosistem Laut Berkelanjutan: Menanggulangi Dampak Perubahan Iklim pada Sektor Perikanan dan Kelautan di Indonesia
Discover more from Yulianus Ladung
Subscribe to get the latest posts sent to your email.