Setelah semalaman berlayar dari kota Manado pada tanggal 23 Agustus 2024 dan tiba di Pulau Sangihe pada tanggal 24 Agustus 2024, juga mulai melengkapi logistik yang kami butuhkan selama pelayaran dari kota Tahuna di Pulau Sangihe ke Pulau Miangas, akhirnya pada sekira pukul 19:17 WITA di tanggal 25 Agustus 2024 kami memulai pelayaran dengan Kapal Motor Sabuk Nusantara 70 yang merupakan bagian dari Tol Laut.


Tol Laut; Konektivitas Transportasi Di Laut
Tol Laut merupakan sebuah program kerja yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo sejak masa kampanye pada tahun 2014. Yang kemudian terwujud sejak tahun 2015 melalui beragam peraturan pemerintah yang ditetapkan untuk mendukung program kerja tersebut.
Dikutip dari beberapa sumber informasi, Tol Laut besutan Presiden Joko Widodo itu agaknya memiliki benang merah dengan era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sebelumnya telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 26 tahun 2012 tentang Cetak Biru Pengembang Sistem Logistik Nasional.
Sebuah cetak biru yang di dalamnya terdapat program kerja Pendulum Nusantara yang ketika itu fokus pada enam pelabuhan utama, yaitu Belawan, Jakarta, Surabaya, Batam, Makassar dan Sorong dengan tujuan untuk menurunkan tarif pengiriman logistik di Indonesia. Pendulum Nusantara memiliki kemiripan dengan program kerja Tol Laut yang sama-sama fokus pada interkoneksi transportasi di laut.

Pada era Presiden Joko Widodo, Pendulum Nusantara itu kemudian berganti nama menjadi Tol Laut.
“Nenek moyang kita adalah pelaut. Nenek moyang kita berjaya karena berhasil menaklukkan laut, memanfaatkan laut. Mengambil kearifan leluhur kita, saya melihat laut sebagai peluang, bukan sebagai hambatan. Maka itu kita menggagas tol laut,” Presiden Joko Widodo. Jakarta, 19 Februari 20217.
Tol Laut merupakan konsep pengangkutan logistik kelautan yang bertujuan untuk menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar yang ada di Indonesia. Diharapkan dengan keberadaan interkoneksi transportasi antara pelabuhan-pelabuhan laut yang ada di Indonesia, maka dapat tercipta kelancaran distribusi barang hingga ke pelosok, sehingga kondisi kelangkaan pasokan logistik seperti bahan pangan, bahan bakar minyak, bahan baku konstruksi, dll dapat dikurangi dan dapat menekan harga komoditas-komoditas yang dibutuhkan hingga ke pelosok.
Sabuk Nusantara; Sang Perintis
Keberadaan kapal motor Sabuk Nusantara merupakan salah satu bagian dari program kerja Tol Laut, yang tersebar di banyak daerah perairan di antaranya seperti di Sulawesi, Kalimantan, Papua dan Nusa Tenggara Timur.
Dan dalam pelayaran dari Pelabuhan Nusantara di Tahuna menuju ke Pulau Miangas kami menumpang kapal motor Sabuk Nusantara 70 yang merupakan salah satu armada yang dimiliki oleh PT Pelayaran Nasional Indonesia (PT PELNI).
Pada awalnya kapal motor tersebut dioperasikan langsung oleh PT PELNI, namun sejak tahun 2024 kegiatan operasional kapal motor Sabuk Nusantara 70 mulai diserahkan ke pihak swasta melalui mekanisme lelang.




Sebenarnya terdapat beberapa unit armada Sabuk Nusantara yang melayani pelbagai rute pelayaran perintis, termasuk untuk rute di sekitar Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud.
Pada awalnya terdapat kapal motor Sabuk Nusantara 70 yang melayani rute Kepulauan Talaud, dan Sabuk Nusantara 69 yang melalui rute Kepulauan Sangihe dan keduanya berpangkalan di Pelabuhan Nusantara yang terletak di Tahuna di Pulau Sangihe.
Namun ketika pelayaran kami ke Pulau Miangas, hanya terdapat satu armada kapal perintis yaitu Sabuk Nusantara 70, sedangkan Sabuk Nusantara 69 sedang menjalani perbaikan.
Jajaran armada Sabuk Nusantara itulah yang melayani beragam rute perintis ke pulau-pulau yang sebelumnya tidak terlayani oleh armada pelayaran swasta karena nilai jual tiket yang tidak terjangkau oleh mayoritas masyarakat kepulauan terpencil.
Rumitnya Menuju Pulau Miangas
Pada ekspedisi Indonesia Negeri Bahari; Energi Bagi Negeri tahun 2024 kali ini, etape Sulawesi Utara dalah yang paling menantang dan rumit.
Tantangan itu bahkan dimulai jauh hari sebelum kami mulai berlayar ke pulau Miangas. Ada banyak hal yang menjadi tantangan pada rute tersebut.
Salah satu yang lumayan rumit adalah terkait ketersediaan informasi jadwal moda transportasi (laut dan udara) ke dan dari pulau Miangas yang sangat sulit untuk didapat.

Minimnya informasi tersebut, bahkan berbuntut pada mundurnya jadwal ekspedisi kami. Yang pada awalnya direncanakan akan dimulai pada awal bulan Agustus 2024, terpaksa harus mundur hingga mendekati penghujung bulan Agustus 2024.
Dan setelah mengalami penundaan beberapa kali, akhirnya pada tanggal 23 Agustus 2024 kami mulai bertolak dari Jakarta menuju kota Manado. Setibanya di Manado, kami berempat langsung berlayar pada hari yang sama menuju ke kota Tahuna dan merapat di pelabuhan Nusantara di pulau Sangihe pada tanggal 24 Agustus 2024 sekitar pukul 04:25 WITA.
Hingga artikel ini diunggah, sebenarnya terdapat pilihan moda transportasi udara perintis dengan menggunakan maskapai SAM Air yang melalui rute mulai dari Gorontalo hingga ke pulau Miangas, namun untuk bisa mendapatkan jadwal penerbangannya pun tidak mudah. Awalnya terdapat layanan dari maskapai Wings Air, namun saat ini maskapai tersebut sudah tidak lagi melayani rute ke pulau Miangas. Sehingga pilihan yang paling relevan bagi kami adalah menggunakan layanan dari kapal motor Sabuk Nusantara.
Kapal motor Sabuk Nusantara tidak sekedar mengangkut penumpang antar pulau, melainkan juga beragam komoditas yang dibutuhkan oleh masyarakat yang tinggal di banyak lokasi kepulauan terpencil yang tersebar dari barat, hingga timur, dari utara hingga ujung selatan Indonesia.
Untuk rute pulau Sangihe ke pulau Miangas dikenakan tarif Rp. 70.000,- per penumpang, tarif tersebut tidak termasuk fasilitas makan dan minum selama pelayaran. Tersedia warung di atas kapal Sabuk Nusantara 70 yang menyediakan menu makanan, serta beragam kudapan serta minuman hangat dan dingin.
Pelayaran 4 Hari 3 Malam
Buat mereka yang sudah terbiasa menempuh perjalanan dengan transportasi laut, pelayaran selama 4 hari 3 malam ke Pulau Miangas bisa jadi bukanlah hal yang spesial, namun tidak bagi kami berempat (Chintya Tengens, Hari Abriyanto, Hiskia Tommy Bororing dan saya sendiri).







Sejak pelayaran dari Manado ke Tahuna, hingga pelayaran dari Tahuna menuju ke Miangas, banyak pertanyaan yang berseliweran dalam benak kami. Pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana kondisi perairan, bagaimana dengan gelombang dan ombak, makanan apa saja yang tersedia di atas kapal, serta bagaimana bentuk akomodasi kami selama dalam pelayaran.
Sebagian pertanyaan itu sedikit terjawab ketika kami tiba di pelabuhan Nusantara di kota Tahuna, karena tidak perlu menunggu jadwal tertentu untuk bisa naik ke atas kapal motor tersebut, sehingga kami naik beberapa jam sebelumnya dan bisa mengintip sekilas bagaimana kondisi akomodasi di atasnya [artikel sebelumnya:
Belayar Ke Perbatasan Paling Utara Indonesia Di Sangihe Dan Talaud (Miangas)].
Pelayaran yang lumayan lama itu bagi kami yang tidak terbiasa dengan transportasi laut yang lebih dari satu hari memberi banyak sekali pengalaman baru, sekaligus kisah demi kisah yang tidak akan kami dapatkan bila menggunakan transportasi udara yang pastinya lebih singkat.
Selama pelayaran ke pulau Miangas, kami harus bersandar di delapan pelabuhan pada rute yang dilayani oleh Sabuk Nusantara 70. Tidak hanya pemandangan bentang lautan biru dan kepulauan yang memukau, namun sekaligus kami bisa melihat langsung kondisi infrastruktur fasilitas umum seperti dermaga, sarana telekomunikasi dan juga dinamika masyarakat kepulauan.
Perhentian di setiap dermaga itu berarti tercipta peluang bagi warga kepulauan untuk mendapatkan tambahan pemasukan. Tambahan pemasukan dari tawaran jasa angkut barang-barang yang dibawa oleh para penumpang atau logistik kiriman, juga para penjaja pelbagai makanan atau hal hasil bumi dari pulau yang kami singgahi.
Bagi para penumpang keberadaan para penjaja makanan itu tentu sangat membantu, karena bisa mendapatkan asupan makanan yang lebih segar dan tentunya dengan harga yang lebih murah bila dibandingkan menu makanan yang tersedia di atas kapal.






Dalam pelayaran tersebut ada dua dermaga yang kami singgahi lebih dari enam jam, yaitu dermaga Marampit dan dermaga Melonguane. Namun hanya di Melonguane kami baru bisa sejenak istirahat tanpa merasakan gejolak gelombang yang mulai tinggi ketika semakin mendekati pulau Miangas.
Catatan ini akan bersambung pada blog selanjutnya. Ikuti kisah lengkap Ekspedisi Indonesia Negeri Bahari; Energi Bagi Negeri pada tautan ini.
Discover more from Yulianus Ladung
Subscribe to get the latest posts sent to your email.