Ekspedisi dan Petualangan ke Pulau Miangas, sang Pulau “Menangis” di Utara Indonesia

Setiap menjelang perayaan hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita kerap menemukan atau mendengar kalimat yang di dalamnya mengandung kata-kata berikut ini:

” .. dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga pulau Rote.”

Dari ke empat penjuru itu, berkat ijin dan anugerah Tuhan, dan juga dukungan dari PT Pertamina (Persero), setelah melalui banyak sekali rintangan, akhirnya kami berhasil melakukan ekspedisi, petualangan dan eksplorasi di pulau Miangas, batas paling utara Indonesia itu.

Artikel ini berusaha menyajikan laporan visual dan ringkasan dari cerita yang telah diunggah sebelumnya dalam bentuk foto esai dan juga video reels, dari ekspedisi yang kami beri tajuk Ekspedisi Indonesia Negeri Bahari; Energi Bagi Negeri.

Sejarah Singkat Pulau Miangas

Pulau Miangas pertama kali ditemukan oleh pelayaran yang dipimpin oleh Garcia de Loaisa, seorang peneliti asal Spanyol pada bulan Oktober 1526. Loasia menyebut pulau itu sebagai “Islas de las Palmas”.

Lantas para pelaut Portugis dalam peta Abraham Ortelius (1570) dan peta Petrus Planciua (1594) menyebut pulau itu sebagai “Ilha de Palmeiras”.

Kedua nama tersebut merujuk ke populasi vegetasi yang terdapat di sana yang di atasnya mayoritas berisi hamparan pohon kelapa.

  • Pulau Miangas
  • Pulau Miangas
  • Pulau Miangas
  • Pulau Miangas
  • Pulau Miangas
  • Pulau Miangas

Ada beragam versi makna nama Miangas yang saat ini disematkan kepada pulau yang merupakan titik nol kilometer di bagian paling utara Indonesia itu, namun agaknya semua warga di sana sepakat bahwa Miangas berarti “menangis”.

Miangas diartikan seperti itu karena letaknya yang sangat jauh dari ibukota Kabupaten Talaud yang merupakan kabupaten perbatasan, pilihan moda transportasi juga sangat terbatas, pasokan logistik yang sangat tergantung dengan kiriman dari Manado dan sarana infrastruktur tidak kalah minimnya.

Pohon Kehidupan Di Miangas

Pulau yang luasnya tidak lebih dari 3,15 kilometer persegi itu lebih dari 90 persen wilayah pulau itu ditumbuhi oleh pohon kelapa.

Jenis vegetasi yang dalam bahasa latin bernama Cocos nucifera L. Pohon kelapa dikenal juga sebagai “pohon kehidupan” karena hampir semua bagiannya dapat dimanfaatkan.

Tidak terlampau berlebihan ketika Loaisa; menyematkan julukan “Islas de las Palmas” ke pulau Miangas, atau bila diartikan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia bisa dimaknai sebagai pulau kelapa. 

Pulau yang memiliki peran sangat strategis dalam konteks kedaulatan dan pertahanan Republik Indonesia karena merupakan titik nol kilometer Indonesia di bagian utara yang berbatasan langsung dengan Filipina di bibir samudera Pasifik, yang dihuni oleh warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan nelayan.

Seperti Moses Lupa (51), salah seorang petani kopra di sana. Moses menuturkan bahwa sektor pertanian kopra merupakan salah satu urat nadi kehidupan masyarakat Miangas dan pulau di sektarnya, selain mengandalkan hasil laut bila cuaca sedang mendukung dan pasokan bahan bakar bisa memadai.

Menurut Biro Pusat Statistik pada bulan Mei 2024, provinsi Sulawesi Utara menempati posisi kedua sebagai daerah penghasil kopra di Indonesia. Minyak yang dihasilkan dari kopra digunakan untuk sebagai salah satu bahan pembuat minyak makan/goreng, dan untuk minyak campuran (edible oil) untuk produk margarin, kosmetik, parfum, sabun, bahan farmasi dan kebutuhan industri lainnya.

Sejak bulan Maret 2024 hingga Agustus 2024 harga per kilo kopra adalah Rp. 9.000,-. Harga tersebut masih harus dipotong biaya produksi seperti upah pekerja pemetik kelapa sebesar Rp. 5.000,- per kilogram. Dan sejak akhir September 2024 harga kopra mengalami peningkatan, yaitu sekitar Rp. 12.500,- hingga Rp. 13.000,- per kilo. Dan hal itu cukup membesarkan hati para petani kopra seperti Moses yang lazimnya memiliki penghasilan Rp. 4.3 juta hingga Rp. 4.5 juta setiap masa panen dalam tiga bulan.

Kisah Moses Lupa yang penuh energi sungguh menjadi bukti bahwa melalui kopra, warga Miangas turut menghidupi dan menjaga kedaulatan negeri kita dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.

Artikel ini akan aku sambung, untuk artikel sebelumnya tentang ekspedisi Indonesia Negeri Bahari; Energi Bagi Negeri bisa disimak di sini.


Discover more from Yulianus Ladung

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.