Raib jadi Rahib

Sebuah artikel yang sungguh menarik, yang saya dapatkan dari sebuah milis dan tentu-nya sudah minta ijin dulu sebelum memposting-nya disini.

RAIB JADI RAHIB

Martin Suhartono sudah tak ada lagi!

Mohon dimaafkan, saya pergi begitu saja, raib tanpa pamit. Dulu di Yogyakarta, saya dijuluki “Biksu Thong” karena gundul plontos. Sesudah tiga tahun di Thailand, aya sekarang menjadi biksu beneran, hanya saja, biksu Katolik alias Rahib, bernama “Ambrose-Mary” .

Sebagai ganti kehadiran saya, sekaligus sebagai salam perpisahan, Terimalah kisah lika-liku kera(h)iban saya. Sungguh Tuhan adalah God Of Surprises!

Selamat Natal 2007 Dan Tahun Baru 2008!

(Pada Pesta St. Bruno, 6 Oktober 2007)

RAIB JADI RAHIB: LIE CHA LIE CHU LIE CHUNG YEN

Surprise awal tentu saja ketika saya dilahirkan di dunia, tak lama setelah Pemilu pertama RI seratus parpol (1955); bukan cuma surprised, saya begitu shocked sehingga menangis keras-keras sampai mata menjadi Sipit seumur hidup, lebih-lebih ketika berusia dua minggu dahi saya dituangi air baptis dan diberi nama Martinus.

Belum lagi berumur tiga tahun, saya musti ikut Ayah Gito Sanjoyo (d/h.Lie Kong Bing) Dan Ibu Corry Chandra Ariani (d/h. Tjan Kwi Nio) (akan saya sebut saja Papi Dan Mami) pindah dari Lanud Kalijati-Jabar ke Lanuma Halim PK Jakarta bersama kakak Truus (kini Ny. Hariprakoso) dan Adik Rita (kini rubiah Klaris, Sr. Caecilia, OSC); tak lama kemudian lahir adik Paulus (nama seniman: Rian Budiyanto, a.k.a. Opung).

Entah ada angin apa, belum lagi berusia lima tahun, saya memutuskan untuk ikut kakak Mami, Tante Lies, tinggal di Salatikha (menirukan ucapan Tante). Sempat juga saya di-internir di asrama bruderan Karangpanas/ Semarang selama kelas tiga SD bersama puluhan anak Indo-Belanda meski saya cuma Indo-Cina, bukan karena nakal melainkan karena kurang-ajar (begitu kata Oom Tjoen Hing, suami Tante).

Menjelang Peristiwa G30S saya mendekati Lubang Buaya dengan kembali tinggal bersama orangtua di Halim PK.

Sejak nama saya diganti dari Lie Chung Yen menjadi Suhartono hidup saya relatif tanpa kejutan; paling tidak . untuk sementara waktu. Di kemudian hari ketika Pak Harto turun tahta (1998), dengan penuh semangat reformasi saya kerap sesumbar bahwa sudah sejak dulu nama saya berarti “Suharto NO”. Bukan begitu kok! Yang benar, gabungan nama Sukarno Dan Suharto membuat saya memilih Suhartono ketika Papi menyuruh saya mencari nama baru.

Saat itu (1967) saya baru saja membaca artikel di Koran Merdeka tentang makna nama; penulis menganalisa bahwa nama dua Pemimpin RI sama-sama tidak sempurna karena masing-masing kekurangan satu unsur Alam yang ada pada yang lain. Menurut penulis itu, su mewakili unsur Manusia yang baik, har atau kar mewakili unsur binatang, to unsur Tetumbuhan, Dan no unsur tanah/bumi; nama Suharto kurang lengkap Karena tidak berpijak pada no (bumi) sedangkan nama Sukarno pun tidak Lengkap karena tidak menguasai wilayah to (tetumbuhan) .

Itulah latar belakang saya memilih nama Suhartono. Harapan saya: nama sempurna otomatis akan membuat saya sempurna. Ternyata tidak! Pilihan lain tentu saja Sukarnoto tapi saya kuatir ini akan membuat saya sukar Menata hidup. Bagaimana pun juga, ternyata hidup saya ini memang sukar ditata karena kejutan tak kunjung berhenti meskipun saya sudah ganti nama.

Kejutan di Akhir SMA

Menjelang akhir SMA (1974) saya ikut retret siswa Kanisius, bukan karena minat pribadi melainkan desakan Pater Moderator (Rm. Sewaka) dengan iming-iming gratis sementara siswa lain musti bayar Rp. 25.000. Retret tiga Hari itu ternyata menentukan masa depan saya. Masuk dengan rencana untuk jadi dokter, saya keluar retret dengan keputusan untuk jadi imam!

Sharing Rm. Kurris tentang panggilan imamat amat menyentuh saya. Begitu session itu selesai, saya langsung kembali ke kamar dan menangis karena menyadari bahwa Allah begitu mengasihi saya, seperti nyata dalam kebaikan banyak orang terhadap saya, sedangkan saya tak mau membalas cinta-Nya; selalu saja saya menunda jawaban terhadap panggilan-Nya.

Selagi berdoa mendadak muncul dalam “layar batin”: gambaran diri saya berpakaian jubah putih; saya pun segera menangkap petunjuk bahwa Allah menghendaki saya mengabdikan diri secara total kepada-Nya. Gambaran itu saya tafsirkan sebagai panggilan untuk menjadi imam.

Ketika saya kabarkan hal itu kepada orangtua, Mami berkata, “Kalau itu memang panggilan Tuhan, Mami turut mendoakan.” Papi bertanya, “Jadi sekarang kamu sudah mantap?” Saya jawab, “Ya!”

Papi bertanya demikian karena sejak kecil saya ingin jadi imam, hanya saja ketika Lulus SD (1968) saya membatalkan niat saya masuk Seminari karena Papi tak mengizinkan. Selama SMP malah muncul berbagai cita-cita lain. Di akhir SMP (1971) muncul lagi niat itu, tapi karena Papi ingin saya jadi dokter, maka saya pun tak jadi ke Seminari. Di Kelas 1 SMA, mengalami sendiri sebagai pasien sebulan dirawat di RS karena sakit kuning, saya pun terdorong untuk jadi dokter dan melupakan panggilan imamat.

Kini di akhir SMA, melihat kemantapan hati saya, Papi tak lagi menentang niat saya. Di hari terakhir 1974 saya masuk Novisiat Serikat Yesus di Girisonta.

Kejutan di Akhir Novisiat

Di tahun pertama saya tertarik oleh promosi tamu Yesuit dari Roma mengenai misi SY di Cina; niat saya menyediakan diri untuk Cina cuma ditanggapi dengan humor oleh Romo Provinsial (Rm. Suradibrata) . Menjelang akhir tahun kedua (September 1976), saya mengalami goncangan batin setelah ikut Grup Dinamika yang mengolah rasa-perasa. Ego terasa hancur luluh. Sambil menjerit dalam hati mohon pertolongan Tuhan, saya buka Kitab Suci secara acak.

Terbukalah halaman yang memuat Kitab Ratapan dan mata langsung tertancap pada ayat-ayat yang berbunyi: “Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN. Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya. Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau TUHAN membebankannya. ” (3:26-28).

Mendadak muncul dalam “layar batin”: gambaran diri saya tafakur sendirian dalam gua; saya segera menangkap petunjuk bahwa Tuhan menghendaki saya menjadi pertapa. Penuh air mata saya pun menerima panggilan ini dengan bahagia.

Atas izin Pembimbing Novis (Rm. Haryata), saya meninjau Pertapaan Trappist Rawaseneng; namun begitu memasuki kompleks pertapaan, muncul keyakinan kuat bahwa bukan itulah tempat saya. Pemimpin Pertapaan (Romo Abbas, Frans Harjawiyata, OCSO) menolak saya karena pengalaman ini terlalu mendadak dan heran bahwa saya menyimpulkan panggilan pertapa dari Ratapan 3:26-28. Secara rasional saya tak menyimpulkan apa pun; semua muncul begitu saja.

Atas nasehat Rm. Sunarya, yang mendampingi retret delapan hari, saya menghubungi Rm. Yohanes Indrakusuma dan Rm. Verbeek, yang baru tiga bulan membuka Pertapaan Karmel di Jawa Timur; Rm. Yohanes mengundang saya tinggal satu dua minggu.

Sebelum ke Jatim, pada tanggal 29 Desember 1976 (HUT ke 21), di kapel Novisiat disaksikan teman-teman novis, di hadapan Tuhan lewat Rm. Haryata, saya mengikrarkan kaul pribadi yang bersifat devotif (bukan resmi gerejani). Saya berkaul untuk hidup miskin, murni dan sebagai pertapa. Kata “selama-lamanya” yang tadinya ingin saya ikrarkan diubah oleh Rm. Haryata menjadi “untuk selama satu tahun”.

Kejutan Terlunta-lunta

Tahun 1977 saya isi dengan berziarah terus menerus, sebagian besar dengan berjalan kaki sambil mengemis makanan dan penginapan: dari Jakarta ke Pertapaan Karmel di desa Ngroto (Pujon), kemudian ke Pertapaan Trappist Rawaseneng (Temanggung) dan Bandung.

Jalan kaki Jakarta-Ngroto lebih merupakan tindakan penuh keputus-asaan daripada dorongan kesucian berlaku-tapa. Papi dengan keras menentang niat saya untuk jadi pertapa, yang dianggapnya tanpa guna bagi masyarakat. Hari-hari saya tinggal di rumah, sebelum berangkat ke Jawa Timur, penuh diskusi panas dengan Papi mengenai niat saya ini. Mami dengan sabar mengatakan bahwa akan berdoa bagi saya apa pun yang saya lakukan agar saya menemukan apa yang menjadi panggilan Tuhan. Karena itulah saya nekad memutuskan bahwa seandainya pun kedua Karmelit itu tidak mau menerima saya, saya akan terus berjalan ke arah timur pulau Jawa/Indonesia sampai menemukan tempat untuk mendirikan pertapaan.

Berangkat dari Jakarta tanggal 3 Februari 1977 saya sampai di Ngroto tanggal 11 Maret 1977. Setelah saya tinggal dua minggu, kedua Romo pertapa mengizinkan saya hidup bersama mereka, entah berapa lama pun saya mau, meskipun belum jelas apakah saya akan resmi bergabung. Selang beberapa bulan, Rm. Yohanes berencana ke Jepang untuk belajar meditasi Zen dan berniat mengajak saya; sudah ditemukan pula donatur yang bersedia membiayai saya. Tapi, dalam suatu perayaan Ekaristi, saya mengalami kejelasan batin bahwa ikut Rm. Yohanes bukan merupakan jalan Tuhan bagi saya.

Kebetulan pada hari itu juga datang Romo Abbas Trappist dan Rm. Sunarya ke pertapaan. Rm. Yohanes menanyakan pada Romo Abbas apakah saya boleh tinggal di Rawaseneng sementara menegaskan panggilan Tuhan. Berkat jaminan Rm. Yohanes, Romo Abbas menerima saya tinggal dalam biara, hidup dan bekerja bersama para rahib, meskipun tanpa niat menjadi Trappist.

Enam bulan saya tinggal di Pertapaan Karmel (Maret – Agustus 1977), dibina dalam pengalaman keheningan dengan praktek Doa Yesus dan studi kerohanian Karmelit (lewat karya St. Yohanes Salib dan St. Theresia Avila). Dari dusun Ngroto itu saya beralih ke Rawaseneng dan tinggal hampir tiga bulan di Pertapaan Trappist (Agustus – Oktober 1977). Di situ saya bertemu lagi dengan Rm. Sunarya yang menganjurkan saya studi teologi di Bandung sebagai dasar hidup pertapa.

Saya pun mengikuti nasehat Rm. Sunarya dan pindah ke Bandung. Di Bandung saya menyewa kamar di perkampungan Karees/Gatot Subroto dan diterima bekerja oleh Sr. Margaretha, P.I. di perpustakaan SMA Trinitas dan kemudian diterima pula oleh Sr. Ursula, O.S.U. sebagai penjaga toko koperasi sekolah di SD Angela karena letak Angela lebih dekat ke Sekolah Tinggi Filsafat & Teologi. Rencana saya adalah kuliah teologi di STFT Jalan Nias itu sambil bekerja sore hari sebagai pembersih laboratorium SMA Angela.

Di Bandung saya berjumpa kembali dengan Rm. Sunarya yang menganjurkan saya mengadakan evaluasi atas perjalanan selama setahun itu. Dari pihak saya, memang saya sudah meninggalkan Serikat Yesus, namun Rm. Haryata masih membuka kemungkinan bahwa selama setahun itu saya boleh kembali tanpa harus mengulang novisiat lagi. Atas undangan Rm.Haryata, saya pun segera ke Girisonta untuk retret delapan hari.

Saya rasakan dalam retret itu bahwa langkah ke depan sebagai pertapa terasa gelap. Karena inspirasi dari Atas terasa kurang jelas dan saya takut melangkah lebih jauh, padahal saya merasa krasan hidup dalam SY di samping menyadari bahwa panggilan religius akan lebih terjaga dalam SY daripada kalau saya mengembara sendirian, maka saya putuskan untuk kembali ke SY.

Pada tanggal 24 Desember 1977 Provinsial (Rm. Suradibrata) menerima saya kembali dan mengizinkan saya mengikrarkan Kaul Pertama pada tanggal 1 Januari 1978 bersama para novis adik kelas saya. Kaul pribadi saya sebagai pertapa, yang tidak diperbaharui setelah setahun, habis masa berlakunya; begitu pikir saya!

Kejutan Tertunda-tunda

Sebagai Yesuit muda saya bergulat terus dengan panggilan ke pertapaan. Para pembimbing rohani saya di masa belajar filsafat di Jakarta (1978-1982) menafsirkan pergulatan ini sebagai hal normal dalam kehidupan Yesuit, yaitu ketegangan antara kegiatan kerasulan dan doa, antara aksi dan kontemplasi.

Sempat saya mengusulkan diri untuk dikirim ke Jepang setelah studi filsafat (1978-82), antara lain karena keinginan memperdalam meditasi Zen, namun Provinsial (Rm. Darmaatmaja) mengutus saya belajar teologi di Universitas Gregoriana, Roma (1982-84) dan setelah itu studi tafsir Kitab Suci di Biblicum, Roma (1984-1989). Pada tanggal 16 April 1984 saya ditahbiskan Diakon di Roma oleh Kardinal Pironio dan ditahbiskan Imam oleh Mgr. Leo Soekoto di Jakarta pada tanggal 15 Agustus 1985.

Sepanjang masa studi di Roma, bentuk doa yang menemani saya dengan setia adalah Doa Yesus yang saya pelajari di Pertapaan Karmel. Setelah studi di Roma, saya mengajar tafsir Perjanjian Baru di Jakarta (1989), dan kemudian mampir Roma lagi untuk mempersiapkan program doktoral (1990) sebelum ke Inggris.

Baru dua bulan saya di Cambridge, datang berita mengejutkan: Papi meninggal dunia (22 November 1990; usia 75). Saya jatuh dalam depresi karena merasa kehilangan orang yang paling berarti dalam hidup saya. Namun ada pula pikiran bahwa kini tidak ada lagi penghalang bila saya ingin menjadi pertapa. Saya sadari bahwa keputusan saya meninggalkan panggilan pertapa dan kembali ke SY sedikit banyak dipengaruhi juga oleh perlawanan Papi terhadap hidup pertapa.

Ternyata ada hal lain yang selama ini tidak saya ketahui karena tidak pernah diungkapkan oleh Papi dan baru terkuak setelah Papi meninggal. Ketika membersihkan lemari Papi setelah upacara kremasi, saya menemukan surat Papi kepada saya yang ditulis pada akhir Juli 1977 tapi tidak pernah dikirimkan. Di surat itu Papi menerima kenyataan bahwa saya menjadi pertapa. Papi mengatakan, “Dalam senja hidupku ini, maka lebih yakinlah aku, bahwa apa yang kita temukan dalam dunia ini hanya semu, hanya palsu. Maka apa yang Martin kini lakukan memang kiranya tepat sekali untuk menemukan dunia yang sejati.”

Papi menggambarkan pula bagaimana seorang pertapa mengosongkan diri dari segala sesuatu, menjadi Tiada, agar dapat dipenuhi semata-mata oleh Yang Ada.

Kepergian Papi yang membuat saya merenungkan makna hidup dan kematian, surat Papi, disertasi yang mengolah waktu dan keabadian, minat saya akan aliran New Age dan keparanormalan, kontak saya dengan para penyembuh alternatif di Inggris, membuat dorongan ke pertapaan berulang kali muncul selama saya di Inggris (1990-1994).

Sempat saya menulis ke Provinsial (Rm. Putranta) bahwa saya tergerak meninggalkan SY dan kembali menekuni hidup pertapaan; saya ungkapkan kekuatiran bahwa bila saya meraih gelar doktor, Serikat Yesus tentu akan berkeberatan bila saya pergi. Beliau menyuruh saya menyelesaikan studi yang sudah saya mulai dan menjamin bahwa, seandainya pun setelah selesai studi, saya tetap berniat menjadi pertapa, SY tidak akan menghalangi melainkan mendukung. Saya pun menyelesaikan studi dan segera kembali ke Indonesia (September 1994). Kecenderungan batin saya saat kembali ke Indonesia itu adalah hampir pasti saya akan menempuh jalan panggilan sebagai pertapa.

Sebagai break sebelum mulai mengajar di Yogya, saya ditugaskan di SMU Loyola Semarang. Gairah dan keterlibatan penuh dalam mendampingi para remaja di Loyola ternyata justru merenggut saya dari ketertarikan akan hidup pertapaan. Sayang, tugas di kolese ini hanya berlangsung setengah tahun (Okt 1994 – Juni 1995) dan saya pun musti mengajar di Yogyakarta sambil memulai tahap akhir pembinaan sebagai Yesuit dalam program Tersiat di Girisonta di bawah bimbingan Rm. Darminta (1995-1996).

Selama menjalani Tersiat saya pikir saya sudah mengucapkan good-bye pada panggilan pertapa, terutama ketika saya menjalani retret sebulan; saya menerima kenyataan hidup sebagai imam Yesuit. Itulah yang membuat saya setahun kemudian tanpa keraguan mengikrarkan kaul terakhir dalam SY (8 September 1997).

Selama bertugas di Yogyakarta sebagai dosen tafsir Perjanjian Baru (1995-2002) beberapa kali saya menawarkan diri untuk dikirim ke Cina atau Myanmar, tapi Provinsial (Rm. Wiryana) hanya menanggapi dengan senyuman. Karena itulah kebutuhan misi SY di Thailand seperti diutarakan Provinsial berikutnya (Rm. Priyono), diteguhkan dalam surat tugas bagi saya dari Pemimpin Umum SY (Pater Jendral), datang pada saat yang tepat (November 2002). Saya bayangkan, setelah selesai jabatan Superior Regional, saya bisa menyepi sebagai pertapa di suatu hutan di Thailand, seperti dilakukan banyak biksu Buddhis. Saya mulai bertugas pada Pesta St. Yosef, 19 Maret 2003.

Belum lagi genap tiga tahun bertugas di Thailand (kemudian juga untuk Myanmar sejak 1 September 2005), ada kebutuhan untuk mendampingi kaum muda Yesuit se Asia Tenggara di Manila sebagai Rektor Residensi Internasional Arrupe. Saya mengakhiri tugas di Thailand & Myanmar pada tanggal 25 Januari 2006 (Pertobatan St. Paulus) dan sampai di Manila pada hari Sabtu Suci, 15 April 2006, untuk mulai tugas pada 31 Mei 2006 (Pesta Maria mengunjungi Elizabeth). Hanya saja, sebelum sampai di Filipina sudah ada pergulatan batin tertentu sejak Desember 2005.

Kejutan di Awal Tugas

Pada bulan Desember 2005 saya ke Spanyol menghadiri pertemuan para Superior SY di Loyola/Xavier. Dalam pertemuan pribadi dengan Pater Jendral, beliau menyuruh saya memulai proses mencari pengganti di Thailand; ketika saya menawarkan diri untuk misi Cina, beliau menjawab secara humor dengan membuka kedua tangan lebar-lebar dan bagaikan deklamator berseru, “YES, your blood is calling you!” Maklum, beliau pernah menerima pengaduan tentang buku Pengakuan Maria Magdalena Lie Chung Yen!

Waktu diadakan piknik untuk peserta rapat, saya bergabung dengan grup yang mengunjungi Museum Gugenheim di Bilbao. Malas berlama-lama di Museum, saya berkeliaran di toko buku antik seberang Museum. Saat itu saya terpukau oleh satu kitab kumpulan lengkap karya St. Theresia Avila (Pembaharu Ordo Karmelit, abad ke-16) yang dipamerkan di etalase. Meskipun buku itu tidak saya beli karena ransel sudah terisi penuh pakaian dan dokumen rapat, bayangan buku itu berulang kali muncul di layar batin bila saya berdoa. Saya pun merasakan hal itu sebagai tindakan simbolis Tuhan memanggil saya kembali ke arah hidup pertapaan. Gerakan batin ini terasa bagaikan hembusan angin sepoi basah, yang semakin hari semakin meresap di hati dan semakin kuat, apalagi karena sebelum ke Manila saya diberi kesempatan meninjau karya SY di Cina dan Jepang.

Selama tinggal di pulau terpencil Taikham di laut Cina selatan, tempat penampungan para penderita kusta (Maret 2006), bayangan hidup pertapaan semakin menggugah batin saya; bahkan timbul keinginan kembali ke pulau itu setelah selesai tugas di Manila. Tiga suster India yang merawat para penderita kusta di situ bergembira mendengar ide ini; mereka tunjukkan sebuah gua, ideal untuk tempat tinggal pertapa; mereka pun rindu setiap hari dapat menikmati perayaan Ekaristi. Kunjungan ke kuil-kuil Zen di Tokyo dan Kyoto (April 2006) semakin menguatkan dorongan untuk hidup sebagai pertapa.

Saya mulai bertugas di Manila dalam keadaan batin semacam ini, tapi segala kecenderungan batin ini saya kesampingkan jauh-jauh dalam sudut hati yang paling tersembunyi dan saya fokuskan diri dalam tugas baru di Manila. Dalam hati saya berkata bahwa saya musti menyelesaikan dulu masa jabatan ini dan sesudah itu barulah saya akan berpikir lagi akan panggilan pertapaan.

Baru tiga minggu di Manila, datang SMS mengejutkan: Mami dalam keadaan kritis di RS. Pengalaman traumatis menerima kabar Papi dalam keadaan koma ketika saya baru sampai Inggris (1990) terulang kembali; saya bergegas ke Jakarta. Saya sadari juga bahwa selama ini saya menunda-nunda menjawab panggilan “meninggalkan dunia” dan “masuk ke padang gurun” karena kuatir akan Mami yang sudah lanjut usia (88 thn) dan membutuhkan perawatan khusus.

Setelah masa kritis berlalu, Mami pulih kembali dan boleh pulang ke rumah; saya pun kembali ke Filipina. Sejak kembali ke Manila dorongan batin ke arah pertapaan semakin kuat saya rasakan; seakan Tuhan bertanya, “Apakah keterikatan pada Ibumu mengalahkan panggilanKu ke pertapaan?”

Dorongan itu menimbulkan konflik batin lain: dari satu pihak musti menjadi pemimpin kaum muda Yesuit tapi dari lain pihak saya sendiri mengalami bahwa batin saya semakin ditarik untuk meninggalkan SY dan meniti jalan pertapaan. Konflik batin ini suatu saat begitu memuncak sehingga malah membuat saya jengkel.

Sore itu, Sabtu 2 September 2006, saya sedang berjalan-jalan menyegarkan pikiran di tepi sebuah sungai seberang shopping-centre dekat residensi kami. Dalam kejengkelan, merasakan tarikan untuk tetap di SY dan tarikan untuk ke pertapaan, mengamati muda-mudi Filipina dengan aneka ragam gaya dan pakaian yang lalu lalang dengan bebas di tepi sungai itu sambil menantikan malam Minggu, saya seakan terdorong berontak pada Tuhan dan berseru, “Saya bebas melakukan apa pun yang saya maui! Tidak harus menuruti panggilan-Mu! Wong sudah enak-enak di SY kok ya masih dioprak-oprak terus untuk jadi pertapa!”

Saat itu malah timbul pikiran untuk melupakan segala hal, baik SY maupun pertapaan, seolah-olah muthung, tak mau repot-repot lagi akan panggilan Tuhan apa pun itu halnya, mau jadi awam biasa saja.

Tapi saat itu juga seakan ada suara dari langit yang bergema di batin saya, “Kau diciptakan untuk suatu rencana!”

Saya pun terperangah dan cuma bisa berdesah, “Ya, Tuhan! Aku diciptakan untuk rencana-Mu, dan betapa gelisah hatiku sebelum rencana-Mu itu terlaksana sepenuhnya dalam hidupku!”

Saya terinspirasi oleh ucapan St. Agustinus, “Ya Allah, kepada-Mulah kami diciptakan dan betapa gelisah hati kami sebelum kami beristirahat di dalam Dikau!”

Saat itu pula terlihat di kejauhan menara sebuah gereja di tepi sungai, dan saya pun berjalan ke sana. Ternyata gereja itu dikhususkan untuk pusat devosi Kerahiman Ilahi. Di hadapan lukisan khusus devosi ini, Tuhan Yesus dengan cahaya warna merah dan putih yang memancar dari Hati-Nya yang Maha Kudus, dengan tulisan “Jesus I trust in you” di bawah kaki-Nya, saya diingatkan kembali akan Kasih Allah semata-mata. Kasih itu pula yang telah menyentuh saya di retret akhir SMA dan mendorong saya untuk memutuskan menjadi imam.

Saya pun tersadar bahwa panggilan-Nya itu berdasarkan Cinta Kasih tanpa batas, tanpa paksaan apa pun, sekedar undangan penuh kasih. Hati saya tersentuh, melunak dan terbuka, Kasih hanya layak ditanggapi dengan kasih pula. Saya pun berlutut di hadapan lukisan Tuhan Yesus dan berdoa menyerahkan diri apa pun kehendak Tuhan atas diri saya.

Hati boleh saja menyerah, tapi pikiran jalan terus, otak berkutat terus dengan segala macam konflik pertimbangan. Ketika pulang ke kolese, saya mendapat jawaban e-mail dari seorang pemuda Thai (17 thn). Sehari sebelum itu, tidak ada angin tidak ada hujan, ia kirim e-mail bertanya bagaimana kabar saya, padahal sejak akhir Maret ketika ia dan orangtuanya menjamu saya sebagai perpisahan, belum pernah ia kirim e-mail. Karena sudah saya pendam sekian lama tanpa bisa sharing kepada siapa pun, tanpa pikir panjang saya pun mengungkapkan pengalaman konflik batin saya dan jalan keluar kejengkelan yang terpikir saat itu, yaitu tidak usah jadi Yesuit tidak usah jadi pertapa, tapi jadi awam biasa saja, kalau perlu menikah (kalau masih laku lho ya!), habis perkara!

Ternyata ia menjawab dengan penuh kebijaksanaan, “Well, Anda sedang melangkahi sebuah ambang pintu. Anda bisa memilih jalan kebahagiaan yang gampang … tapi cuma untuk sesaat saja, atau Anda bisa memilih jalan yang lebih sulit, jalan yang akan membawa Anda ke kebahagiaan abadi, mematahkan lingkaran Samsara, berada bersama Tuhan!”

Sungguh kalimat sederhana pemuda itu membawa semacam pencerahan; berbagai konflik pikiran saat itu sirna begitu saja, bagaikan ruang gelap yang segera menjadi terang begitu jendela-jendela dibuka karena ada cahaya matahari yang masuk.

Tuhan pernah memakai saya untuk menolong pemuda Thai beragama Buddha ini yang nyaris bunuh diri karena gagal masuk SMA unggulan di Bangkok. Karena dia tak mau menemui biksu Buddhis mana pun, orangtuanya -dalam kebingungan mereka- mendatangkan saya, Biksu Thong yang Katolik. Setelah kami omong-omong dari hati ke hati, semangat hidup bangkit dalam hatinya. Kini Tuhan ganti memakai pemuda itu untuk menolong saya keluar dari konflik batin.

Sehari kemudian saya pergi ke Novisiat SY Hati Kudus Yesus agak diluar kota Manila untuk mengadakan retret tiga hari sambil merenungkan dalam keheningan doa apa yang musti saya lakukan. Padre Nunez, pembimbing retret, memperingatkan, “Yang penting bukan jadi Yesuit atau jadi pertapa, jadi ini atau jadi itu. Yang penting, manakah yang dikehendaki Tuhan bagi dirimu!”

Dengan sikap batin itulah saya mengawali retret. Minggu itu, 3 September 2006, seharian saya cuma berdoa mengucapkan doa yang diajarkan imam Eli kepada Samuel muda, “Bersabdalah ya Tuhan, hambamu mendengarkan! ” (1 Samuel 3:9). Setelah berminggu-minggu sulit tidur di kolese, suasana rumah retret yang hening membantu saya tidur pulas begitu meletakkan kepala di atas bantal sesudah makan malam.

Menjelang jam tiga pagi saya terbangun dan meskipun kamar gelap gulita tetapi terasa terang benderang. Pikiran terasa begitu jernih dan batin begitu bening. Masih sambil berbaring, muncullah dalam hati keyakinan dan kemantapan luar biasa mengenai langkah yang musti diambil. Saya mendadak mengerti begitu saja bahwa saya memang harus meninggalkan SY dan mengikuti panggilan sebagai pertapa.

Saya coba bertanya, “Ya, tapi pergi kemana dan bagaimana?”

Ada jawaban dalam batin, “Satu demi satu, langkah demi langkah, per tahap akan ditunjukkan kepadamu!”

Saya mencoba menyangsikan atau membantah keyakinan itu, tapi tidak bisa. Yakin ya yakin, tidak ada kata “tetapi” lagi. Musti pergi ya pergi, meski musti meninggalkan Serikat Yesus, bunda pengasuh saya tercinta selama 33 tahun. Soal ke mana ya kita lihat saja nanti. Yang terasa hanyalah suka cita dan kedamaian batin yang amat mendalam.

Selama ini sejak peziarahan 1977, meskipun selalu ada kecenderungan ke pertapaan, saya tak berani bertindak karena tak ada keyakinan mantap seperti yang sekarang ini saya alami. Barulah saya mengerti mengapa St. Matius dll. bisa langsung meninggalkan keluarga, pekerjaan yang tengah dilakukan, dan segala sesuatu begitu mendengar seruan Yesus, “Ikutilah Aku!”

Kemudian selama retret memang muncul langkah konkret yang musti saya tempuh, yaitu bergabung dengan Ordo Karthusian. Uraian terperinci mengenai Ordo yang didirikan hampir seribu tahun yang lalu ini (th.1084), yang saya baca di website resmi mereka (http://www.chartreux.org/), amat mengesankan hati saya, terutama ungkapan yang dipakai oleh Pendiri Ordo ini, St. Bruno (abad 11), untuk menggambarkan semangat hidupnya, yaitu “dibakar oleh Kasih Ilahi …. meninggalkan yang fana … dan meraih yang abadi.” senada dengan e-mail pemuda Thai yang saya terima sebelum retret, dan sepaham dengan gagasan Papi dalam surat terakhir.

Semalam-malaman, ungkapan St. Bruno tersebut dalam bahasa Latin seperti saya baca di internet, “fugitiva relinquere et eterna captare.. meninggalkan yang fana … dan meraih yang abadi” bergema terus dalam hati saya.

Padre Nunez, yang semula menghalangi saya meninggalkan Serikat Yesus, di akhir retret dengan bersemangat menyuruh saya segera menulis minta izin transfer Ordo kepada Pater Jendral. Saya bersyukur bahwa beberapa teman Yesuit (Rm. Meehan, Rm. Bulatao, Rm. Pollock) menemani saya dalam proses pengambilan keputusan yang sulit ini, begitu pula Superior saya di Manila (Rm. Adolfo) maupun Indonesia (Rm. Priyono).

Pada Pesta St. Matius, 21 September 2006, saya mengirim surat ke Pater Jendral. Dari Roma, lampu hijau diberikan asalkan ada pertapaan yang menampung. Sayang, pertapaan Karthusian di Korea (sejak 2004) hanya menerima calon Korea. Pertapaan Karthusian di Italia, yang saya hubungi pertama kali, tidak segera memberikan balasan; inilah pilihan pertama saya karena banyak teman di Italia dan membayangkan makan spaghetti atau macaroni tiap hari! Setelah berhari-hari tanpa jawaban dari Italia, saya pun menulis ke Inggris; dalam sehari datang jawaban positif.

Pada tanggal 6 Oktober 2006, Pesta St. Bruno, saya menerima fax dari wakil Pater Jendral yang mengizinkan memulai langkah ini. Setelah segala sesuatu beres diurus dengan pertapaan di Inggris datang surat balasan dari Italia yang menyuruh saya datang, namun saya putuskan untuk tetap ke Inggris karena merasa ke sanalah Penyelenggaraan Ilahi menuntun saya meskipun bukan pilihan pertama saya.

Kejutan di Malam Pertama

Pada Hari Raya Para Kudus, 1 November 2006, saya meninggalkan Filipina dengan berat hati karena selama lima bulan di sana saya mengenal sekian banyak Yesuit muda dari Asia Tenggara yang berada dalam pendampingan saya dan sudah mulai terjalin kasih persaudaraan di antara kami. Baru kali ini saya pergi dari suatu tempat dilepas digerbang kolese dengan pelukan 77 Yesuit.

Selama di Indonesia sebelum ke Inggris, sebagian besar waktu saya habiskan di Halim, menuruti nasehat dari biara Karthusian Inggris, “Tinggallah dengan Ibumu, karena sebagai Karthusian, kita tak akan pernah pulang ke rumah lagi ….” Saya pun tak ingin berpamitan sana-sini karena tak tahu juga apakah pasti jadi ke Inggris karena sulit mendapatkan visa, kalau pun jadi, akan berapa lama dll., semua serba belum jelas.

Tepat pada Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda, 8 Desember 2006, saya masuk Pertapaan Karthusian di Inggris, St. Hugh’s Charterhouse (sejak 1873), Parkminster, sekitar 20 Km dari Brighton, pantai selatan Inggris. Saya ditempatkan di Sel L yang terletak di pojok koridor selatan biara; pada pintu sel tertulis “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada!” (Matius 6:21).

Ketika akan tidur, saya buka tirai yang menutupi bilik tidur dan saya pun tersentak kaget. Pada dinding terpancang foto lukisan Yesus dari Devosi Kerahiman Ilahi, seperti yang saya temui di Manila dalam periode krisis antara panggilan Tuhan dan pemberontakan saya. Tak ada hal yang kebetulan. Segala sesuatu adalah “kebetulan yang bermakna” atau bagi orang beriman, “Penyelenggaraan Ilahi”.

Kehadiran lukisan yang dipasang oleh penghuni Sel L sebelum ini, saya terima sebagai pertanda bahwa Kerahiman Ilahi semata-matalah yang telah memanggil saya ke padang gurun serta menuntun saya ke Parkminster ini dan bahwa panggilan ini bukan hanya demi saya sendiri melainkan demi banyak orang. Tulisan “Jesus I trust in you” pun mengingatkan saya pada siapakah saya musti bergantung untuk dapat bertahan di pertapaan. Maka dengan lega hati saya pun membaringkan diri dan tertidur. Malam pertama di pertapaan Karthusian.

Menjelang tengah malam saya terbangun, antara sadar dan tidak, dari balik tirai saya melihat seakan lampu sel menyala dan ada yang sedang berjalan keliling ruangan; saya merasa, bila tirai saya singkapkan maka akan tampak seorang rahib (penghuni sel di masa lalu!); namun saya terlalu lelah setelah 30 jam perjalanan Jakarta-Parkminster (dan rada takut!) untuk menyambut ucapan selamat datang dari dunia seberang, karena itu saya pun kembali pulas.

Berbagai jenis “sambutan” malam hari akan berlanjut terus dan baru berhenti di kemudian hari ketika saya diterima sebagai novis; saat saya diresmikan sebagai pemilik sel L!

Setelah dua minggu lebih sedikit hidup sebagai retreatant (peserta retret) sekaligus aspirant (peminat), tepat pada Malam Natal, 24 Desember 2006, dengan harapan bahwa Yesus lahir kembali dalam diri saya, saya diterima sebagai postulant (pelamar) diiringi upacara: Romo Pembimbing Novis (75 thn., asal Irlandia) membasuh dan mencium kaki saya dan setelah itu para rahib yang masih dalam pembinaan, urut berdasarkan senioritas, dimulai dari 7 rahib yunior (berkaul sementara), 3 rahib novis, dan 2 postulan lama, bergantian memperkenalkan diri dan mencium kaki saya (untung sudah saya cuci pakai sabun wangi, andaikata tidak, rahib-rahib itu bakal bergelimpangan satu per satu). Saya pun diberi mantol hitam ala Batman & Robin dan tutup kepala hitam ala rabbi Yahudi (skull-cap).

Bacaan yang dipilih Pembimbing sebelum memulai acara basuh kaki, tepat sekali mengungkapkan sikap batin saya, yaitu: “Oleh imanlah Abraham taat ketika dipanggil pergi ke suatu tempat yang akan diterimanya sebagai warisan; ia berangkat tanpa tahu ke mana ia pergi…” (Ibrani 11:8)

Setelah itu saya diminta sharing panggilan dan diikuti tanya-jawab. Tiga puluh tahun yang lalu, Romo Abbas Trappist heran bahwa timbul dorongan menjadi pertapa di hati saya karena ayat-ayat Kitab Ratapan 3:26-28 itu, tetapi dalam sharing itu, begitu mendengar saya menyebut ayat ini, Pembimbing langsung berkata lirih, “Itulah ayat klasik panggilan Karthusian!”

Beliau menerangkan bahwa ayat-ayat tersebut digunakan dalam Statuta Ordo Karthusian untuk menggambarkan panggilan Karthusian; dikatakan di situ “… teks yang amat menghibur kita, sebagian besar dari kita memang sudah menghayati panggilan ini dari masa muda kita.”

Hari yang dipilih Pembimbing, yaitu Malam Natal juga amat mengesankan saya. Persis enam bulan sebelumnya, 25 Maret 2006, Hari Raya Kabar Gembira, perayaan Malaikat Gabriel memaklumkan bahwa Bunda Maria akan mengandung Sang Kristus, di penampungan penderita kusta di Pulau Taikham, Laut Cina Selatan, saya memutuskan untuk tidak makan daging lagi (saya langgar dengan makan bakso, gulai dll., selagi di Indonesia, kepingin je!). Ternyata tepat sembilan bulan kemudian di malam Perayaan Kelahiran Yesus, saya diterima sebagai postulan suatu ordo rahib yang berpantang daging. Pada tanggal 24 Desember 1977 saya diterima kembali dalam SY setelah setahun mencoba hidup pertapaan dan kini 24 Desember 2006 saya diterima kembali dalam pertapaan setelah hidup sebagai Yesuit!

Point-point “kebetulan” itu membuat saya bertanya-tanya dalam hati, “Apakah ini tanda-tanda bahwa Tuhan memang memanggil saya untuk menjadi rahib Karthusian?”

Kisah pendiri Ordo Karthusian, St. Bruno, yang saya baca di website Karthusian dalam retret tiga hari di Manila, amat menggugah saya. Ada kesamaan perpindahan dari dunia karya ke padang gurun pada usia 50 tahun. Lahir di Koeln, Jerman (tahun 1030), sejak muda ia belajar di sekolah terkenal di Katedral Rheims, Perancis, meraih gelar doktor dan diangkat rektor universitas di situ pada tahun 1056 dan selama 28 tahun menjadi pengajar terkenal dalam bidang teologi. Menolak diangkat sebagai Uskup Rheims, ia pun pada tahun 1084 dengan enam teman memilih hidup menyepi di Perancis, di lembah Chartreuse (inilah asal nama Khartusian).

Setelah hidup di sana selama enam tahun ia dipanggil oleh mantan mahasiswanya yang menjadi Sri Paus (Paus Urbanus II) untuk menjadi penasehat. Dengan taat ia berangkat ke Roma dan tinggal di sana selama beberapa bulan tapi tak krasan dengan suasana di situ. Kembali ia menolak diangkat Uskup ketika Sri Paus meminta dia menjadi Uskup di Italia Selatan. Ia tetap terdorong untuk hidup menyepi. Sri Paus akhirnya memberi izin asalkan ia tetap di Italia agar dengan mudah bisa dihubungi. Dengan restu Sri Paus ia mendirikan pertapaan di Italia selatan (Calabria) dan tinggal di situ sampai meninggal dunia pada tanggal 6 Oktober 1101.

Kisah hidup St. Bruno ini ternyata disiapkan oleh Romo Prior (sebutan bagi Pemimpin Biara) sebagai alasan memohonkan dispensasi (pengecualian) bagi saya dari Kapitel Jendral Ordo Karthusian (rapat para pemimpin biara Karthusian sedunia yang berfungsi sebagai institusi yuridis tertinggi). Saya butuh dispensasi ganda karena selain di atas batas usia maksimal 45 tahun, saya pun sudah kaul solemn (meriah) di ordo/tarekat lain.

Romo Prior, orang Perancis seusia saya dan sudah jadi rahib sejak usia 21 tahun, berkata pada saya sebelum berangkat ke Kapitel Jendral, bahwa seandainya ada yang menentang, maka ia akan berdalih, “Santo Bruno pun dulu sudah berusia 51 tahun dan aktif merasul selama hampir tigapuluh tahun en toh bisa jadi pertapa!”

Nekad juga Romo Prior kami ini, masakan saya dibandingkan dengan Santo Bruno. Ya kalau Santo memang bisa saja dengan mudah, lha kalau Sontoloyo seperti saya ini apa ya bisa?

Entah apakah argumen itu jadi digunakan oleh Romo Prior, yang jelas 19 Prior yang berkumpul di Grande Chartreuse (Biara Induk Karthusian), Perancis, bulan Mei yang lalu, bisa diyakinkan dan dispensasi pun diberikan bagi saya.

Dengan dispensasi itu, izin resmi untuk memulai proses transfer dengan mudah pula diperoleh dari Pater Jendral SY sehingga saya dapat mulai dengan tahap percobaan sebagai novis; surat izin ditulis tanggal 24 Mei 2007, Pesta Beato William dari Fenol, Karthusian Italia.

Pada Pesta Kelahiran St. Yohanes Pembaptis, 24 Juni 2007, saya diterima sebagai rahib novis Karthusian dalam upacara pemberian pakaian biara dan peresmian Sel L sebagai tempat tinggal saya.

Proses transfer ini tak terlalu sulit karena sudah sejak Serikat Yesus berdiri (abad 16) selalu ada hubungan akrab antara SY dan Ordo Karthusian. Banyak Yesuit menghargai dan terpesona oleh kehidupan Karthusian. Pendiri SY, St. Ignatius Loyola, mengalami pertobatan ketika membaca kisah hidup Yesus yang ditulis oleh seorang Karthusian; dan pernah berpikir pula untuk menjadi Karthusian.

Para kudus Yesuit di awal perjalanan SY pun, misalnya St. Petrus Kanisius, mengaku bahwa pada masa mudanya “cinta akan kedamaian dan kontemplasi menarik aku pada hidup membiara sebagaimana dipraktekkan oleh para Karthusian” dan meski menjadi Yesuit ia tetap menjalin hubungan erat dengan para Karthusian dan senantiasa mohon bantuan doa bila mengalami kesulitan. Begitu pula Beato Petrus Faber yang sejak muda dekat dengan para Karthusian dan ketika sebagai Yesuit musti berkeliling di Eropa ia menginap di biara-biara Karthusian sehingga dijuluki “Karthusian yang mengembara”. Saya bukanlah Yesuit pertama yang mencoba transfer ke Ordo Karthusian; kebanyakan kembali ke SY di tahun pertama tanpa sempat menjadi novis.

Meskipun ada izin dari Kapitel Jendral Ordo, kata terakhir penerimaan saya adalah pemungutan suara anggota komunitas Parkminster (15 rahib yang sudah kaul kekal). Kalau hasil voting negatif, sang calon musti pergi dan Romo Prior tak bisa berbuat apa-apa meski ia pribadi menyetujui sang calon. Sedangkan meskipun hasil voting positif, ia masih punya hak veto dan menolak calon, seperti terjadi terhadap satu postulan bersama saya, Lazarus, orang Inggris usia 37 mantan rahib Trappist; komunitas menerima dia, tapi Romo Prior menolak, maka ia pun tak jadi masuk novisiat.

Dalam lima tahun ke depan ini, sebelum saya diizinkan kaul kekal sebagai Karthusian, akan ada tiga kali voting lagi untuk saya: di akhir tahun kedua, di akhir tahun keempat, dan di akhir tahun kelima persis sebelum kaul kekal. Maka ya Wait and See saja.

Selain mendapat jubah rahib Karthusian, saya pun mendapat nama biara, sebagai tanda perubahan hidup, yaitu Ambrose-Mary (Latin: Ambrosius Maria). St. Ambrosius, Uskup Milano di abad ke-4 M, wafat dan dipestakan tanggal 7 Desember (hari saya meninggalkan Indonesia); Mary tentu saja nama Bunda Maria, nama umum bagi para rahib, selain karena saya tiba di pertapaan tepat pada Pesta Maria Immaculata. Untuk memanggil rahib Katolik biasa ditambahkan sebutan Dom (dari bhs. Latin Dominus/Domine, Master/Mister) .

Untuk saya disingkat saja “Dom Ambrose”, karena kalau lengkap “Dom Ambrose-Mary” malah terdengar seperti “Dame Rosemary”! Dalam jubah rahib lengkap dengan mantol novis berwarna hitam, saya tampak mirip Harry Potter Sr., atau malahan . Sr. Rosemary, Jr!

Pertapaan Parkminster punya 30 sel dan hampir selalu penuh. Saat ini dengan 15 rahib berkaul kekal dan 13 rahib yang masih dalam proses pembinaan cuma tinggal dua sel kosong. Dua sel ini pun selalu terisi karena dari waktu ke waktu selalu saja ada pemuda yang berminat mencoba panggilan Karthusian.

Panggilan ke tarekat kontemplatif memang belakangan ini agak naik daun, begitu komentar seorang retretan dari USA, terutama di negara-negara maju. Film yang baru-baru ini mendapat penghargaan di festival film internasional, Into Great Silence (asli Jerman: Die Grosse Stille), mengenai kehidupan Karthusian di Perancis, juga ikut membuat banyak pemuda sejak awal tahun ini mencari biara Karthusian.

Sebagian besar peminat sampai ke sini karena melihat website Parkminster (http://www.parkmins ter.org.uk/) , termasuk saya. Selama enam bulan saya di sini, belasan pemuda dari berbagai penjuru dunia mencoba tinggal dua minggu atau sebulan. Tak satu pun kembali untuk menetap, kapok rupanya! Bagaimana pun, mereka patut dikagumi, masih berusia 20an tahun dan baru lulus universitas sudah berpikir untuk mengabdi Tuhan dalam keheningan (Kalau saya sih memang sudah tinggal tulang berserakan, masih mau apa lagi?)

Di seluruh dunia, saat ini Ordo Karthusian hanya punya 19 pertapaan untuk rahib (314 orang) dan 6 pertapaan untuk rubiah (64 orang); sebagian besar di Eropa. Di luar Eropa hanya ada di USA (1), Brasilia (1), Argentina (1), dan Korea (1 untuk rahib dan 1 untuk rubiah). Sedikit sekali jumlah anggota Karthusian (total rahib dan rubiah 378) bila dibandingkan dengan 21.000 anggota Yesuit.

Jumlah anggota tarekat biarawan/wati aktif (aktif merasul di dunia) dalam Gereja memang jauh lebih banyak daripada tarekat kontemplatif (hidup dalam keheningan doa). Sebagian besar tarekat kontemplatif punya pola hidup bersama, a.l. Benediktin, Trappist, Karmelites, dan Klaris. Ada dua tarekat berpola pertapaan dengan rahib yang hidup sendirian meski masih terikat dalam suatu komunitas, yaitu Ordo Kamaldoli, yang didirikan oleh St. Romualdus di abad 11, dan Ordo Karthusian.

Karthusian dikenal paling ketat dan keras dalam mempertahankan semangat dan pola hidup ordonya sehingga timbul pepatah bahasa Latin, “Cartusia numquam reformata quia numquam deformata” (Ordo Karthusian tak pernah direformasi karena tak pernah mengalami deformasi/kemerosotan).

Saya kadang menyebut “biara” (monastery) kadang “pertapaan” (hermitage) untuk rumah Karthusian; sebetulnya Ordo Karthusian menghindari dua istilah itu karena merupakan gabungan antara pertapaan (hidup sendirian) dan biara (hidup komunitas). St. Bruno menghidupkan kembali tradisi Laura, pemukiman para pertapa Kristiani di padang gurun Mesir dan Palestina abad ke-3-4 yang berupa sel-sel individual terpencar-pencar sekeliling gereja. Dalam bahasa Inggris dipakai istilah Charterhouse; istilah Charter merupakan adaptasi bahasa Inggris dari Chartreuse (lokasi biara induk di Perancis); tapi kalau saya terjemahkan “rumah carteran”, nanti dikira “tempat pelacuran”!

Baik tarekat aktif maupun kontemplatif punya tempat dan fungsi masing-masing dalam Gereja sebagai satu kesatuan Tubuh Kristus sebagaimana diuraikan St. Paulus (1 Korintus 12; Efesus 4; Roma 12).

Konsili Vatikan II dalam dekrit mengenai tarekat hidup bakti (Perfectae Caritatis) mengatakan, “Betapa pun mendesak kebutuhan kerasulan aktif, Tarekat-tarekat yang dibaktikan secara penuh pada kontemplasi haruslah terus memainkan peranan menakjubkan mereka dalam Tubuh Mistik Kristus yang memiliki anggota dengan tugas berbeda-beda; anggota-anggota mereka menyerahkan seluruh waktu mereka kepada Allah semata-mata dalam keheningan dan kesendirian, berdoa terus menerus dan secara sukarela melaksanakan laku-tapa. Mereka mempersembahkan kepada Allah kurban pujian yang istimewa, sehingga membuat Umat Allah bersinar cemerlang dengan buah-buah kekudusan yang melimpah ruah; mereka menggerakkan Umat Allah dengan teladan mereka dan memberi Umat Allah pertumbuhan berkat kesuburan kerasulan mereka yang tersembunyi.”

Paus Benediktus XVI dalam salah satu homili mengibaratkan tarekat kontemplatif sebagai paru-paru dalam Gereja, tersembunyi namun memungkinkan tubuh memproses daya kehidupan.

Dalam Statuta Ordo Karthusian dikatakan, “Bila kita sungguh-sungguh hidup dalam persatuan dengan Allah, maka budi dan hati kita sama sekali tak akan tertutup dalam diri sendiri, melainkan terbuka penuh merangkul seluruh alam semesta dan misteri Kristus yang telah menyelamatkan alam semesta. Terpisah dari semua, kita bersatu dengan semua, sehingga atas nama semualah kita berdiri di hadirat Allah yang hidup.”

Komunitas Parkminster – Pesta St. Bruno 6 Oktober 2007

Di antara biara-biara Karthusian, Parkminster yang paling internasional, selain karena berbahasa Inggris, juga karena multi-nasional. Biara Karthusian di USA meski berbahasa Inggris namun tak sepopuler Parkminster, selain karena bangunan biara Parkminster dipandang lebih indah bisa juga karena Parkminster sering menjadi bahan buku, mis. Hear Our Silence (oleh John Skinner), Halfway to Heaven (R.B. Lockhart, diterjemahkan juga dalam banyak bahasa, a.l. Jerman, Botschaft des Schweigens), dan Infinity of Little Hours (Nancy Maguire).

Saat ini di Parkminster ada 28 penghuni dari 18 negara: Inggris (7), Irlandia (3), Polandia (2), USA (2), Belanda (1), Cekoslowakia (1), Hongaria (1), Perancis (1), Portugal (1), Spanyol (1), Swiss (1), Australia (1), Brasilia (1), Zimbabwe (1), India (1), Indonesia (1), Jepang (1), Vietnam (1). Di Italia ada juga seorang suster/rubiah Karthusian dari Indonesia (usia 58, kaul kekal tahun 1988); sedangkan rahib Karthusian, sedunia baru saya saja dari Indonesia saat ini.

Ada yang mau menyusul?

Ordo Karthusian punya ritus Perayaan Ekaristi yang jauh lebih sederhana daripada yang umum kita kenal karena amat hemat kata. Rahib Karthusian yang imam merayakan Misa Kudus dua kali sehari: ikut Misa komunitas di gereja dan mempersembahkan Misa sendirian di kapel pribadi. Dalam Misa komunitas khas Karthusian, Doa Syukur Agung diucapkan dalam batin dan tanpa kotbah. Doa Damai yang lazim kita kenal amat panjang, “Tuhan Yesus Kristus, Engkau pernah bersabda kepada para rasul-Mu dsb.”, dalam ritus Karthusian hanya singkat, “Tuhan Yesus Kristus anugerahkanlah damai; damai yang tak dapat diberikan oleh dunia” (Yoh 14:27). Itu saja.

Damai Kristus itulah yang saya lihat dihayati oleh para rahib Karthusian di sekeliling saya. St. Bruno menulis demikian, “Apakah anugerah-anugerah ilahi yang disediakan oleh keheningan dan kesendirian padang gurun bagi mereka yang mencintai padang gurun, hanya mereka yang telah mengalamilah yang tahu.”

Dari Italia Selatan St. Bruno menulis demikian kepada para bruder Karthusian di Perancis, “Bersukacitalah karena sempat menyelamatkan diri dari gejolak samudera dunia ini, yang menimbulkan banyak bahaya dan kapal tenggelam. Bersukacitalah karena Anda sekalian telah mencapai lekukan pantai yang terlindung, tenang aman dan damai. Banyak orang ingin sampai ke situ, bahkan banyak orang yang mencoba mencapai tempat itu, namun tak sampai ke sana. Banyak juga yang tidak tinggal menetap di sana meskipun telah mengalami tempat itu karena mereka tak menerima panggilan Tuhan. ”

Pertapaan Karthusian sering disebut sebagai “setengah jalan ke sorga” (Halfway to Heaven), namun agar para rahib Karthusian tak jatuh dalam kesombongan hati, pernah seorang Abbas Ordo Cistersian memuji keluhuran panggilan para Karthusian yang dalam keheningan dan ketersembunyian hidup di hadirat Tuhan, “Mereka yang lain punya panggilan untuk melayani Tuhan, kalian untuk melekat pada-Nya; yang lain punya panggilan untuk percaya kepada Tuhan, mengenal Dia, mencintai Dia dan menghormati Dia; kalian untuk mencicipi Dia, memahami Dia, menjadi akrab dengan Dia, menikmati Dia!”

Tak berhenti di situ saja, ia kemudian menulis, “Namun demikian, …. jauhkanlah segala peninggian diri …. anggaplah diri kalian sebagaimana binatang buas yang musti dikunci erat-erat di kandang, karena tak bisa dijinakkan dengan cara-cara biasa kecuali dengan cara ini……” (William dari Biara St. Thiery dalam The Golden Epistle, abad 12).

Nah itu dia! Setelah dibiarkan berkeliaran selama setengah abad di dunia luar, saya sekarang musti dikunci erat-erat di kandang Parkminster untuk dijinakkan! Sejak saya lahir inilah tempat tinggal saya yang ke-25 dan, bila inilah yang berkenan pada Tuhan, semoga yang terakhir!

Kedekatan dengan Tuhan dalam doa tak selalu berarti para Karthusian hidup dalam kelimpahan hiburan rohani yang serba manis, hangat dan mesra, atau pun kelimpahan inspirasi rohani. Pada bulan kedua saya di sini Romo Prior mengunjungi sel saya dan bertanya mengenai macam-macam, a.l. hidup doa saya. Saya laporkan bahwa sejak datang saya mengalami banyak hiburan rohani, doa penuh semangat, dan seakanTuhan, Bunda Maria dan para kudus itu berbicara langsung kepada saya.

Beliau pun dengan bahasa Inggris aksen Perancis dan gaya cuek ala Perancis, mengangkat pundak sedikit sambil mecucu dan berkata, “Beuh, panggilan kita adalah mengabdi Tuhan dalam keheningan, maka Tuhan pun biasanya cuma membisu seribu bahasa!”

Itu betul ternyata! Sama halnya seperti hubungan antar kekasih, suami – istri, yang dalam perjalanan waktu semakin tak tergantung pada asmara membara dan romantisme sesaat atau pun rayuan-rayuan manis lagi, para rahib Karthusian pun dipanggil untuk mengandalkan diri pada iman, harapan dan kasih semata-mata, bukan pada hiburan rohani.

Ketika suatu hari Pembimbing Novis datang dan tanya saya, “Bagaimana kabarmu? Doamu?” dan saya menjawab, “Sepi-sepi saja!” ia pun berkata lega, “Good, that’s very good!” Dan jawaban saya “Wah, Tuhan terasa jauh meninggalkan saya!” justru membuat matanya bersinar-sinar, “Bagus sekali! Itu amat normal bagi kita Karthusian!”

Adik saya, Sr. Caecilia, yang sudah 20an tahun hidup sebagai rubiah di Biara St. Clara, Pacet-Sindanglaya, yang tak sempat saya temui sebelum berangkat ke Inggris, mengirim fax demikian, “Memang ada rasa kecewa juga … tetapi tak apalah… nanti kita bertemu di surga saja ya? Ha ha ha ya kalau langsung masuk surga, kalau harus lewat api penyucian dulu khan lamaaa sekali … ha ha ha!”

Begitu pula ada seorang tokoh Katolik awam menyalami demikian ketikaberpisah dengan saya, “Sampai jumpa di sorga ya Romo!”

Doa permohonan yang dipanjatkan setiap hari oleh para Karthusian sedunia bagi keluarga, saudara, teman dan handai-taulan pun berbunyi demikian, “Karuniakanlah anugerah-anugerah hidup abadi kepada mereka.”

Itu pulalah yang spontan muncul dalam pikiran saya bilamana mengenangkan Anda sekalian. Kita tak sempat bertemu lama dan tinggal bersama cukup lama di dunia ini, semoga di keabadian kita berjumpa kembali dalam kepenuhan Kasih Allah. Amin.

Hanya saja, lama kelamaan, setelah beberapa saat di pertapaan ini, saya sendiri jadi tak berpikir lagi akan sorga. Tentu saja saya tetap mendoakan sorga bagi Anda sekalian, kalau bisa sudah mulai di dunia sini. Namun bagi saya sendiri, saya tak ingin apa-apa kecuali apa yang berkenan di hati Tuhan, bahkan seandainya pun itu berarti pintu sorga tertutup untuk saya, atau bahkan seandainya pun saya musti kembali keketiadaan, tidak apalah, kalau itu yang berkenan di hati-Nya, bukankah Ia telah menciptakan saya dari ketiadaan juga? Boleh mengabdi Dia semata-mata di sini seturut kehendak-Nya, itu saja sudah cukup.

Saya teringat anak-anak rohani saya yang mencegah saya meninggalkan mereka dengan berkata, “Tinggallah di sini saja, Father! Saya tak butuh ilmu kepandaian Father, tak butuh karunia penyembuhan Father, tak butuh doa-doa Father, tak butuh kotbah dan nasehat Father. Saya hanya menginginkan kehadiran Father semata-mata! ”

Nah, kini saya merasakan bahwa The Father pun mengatakan hal yang sama kepada saya, Ia tak membutuhkan kuliah saya, kotbah saya, penyembuhan saya, atau pun doa-doa saya, ia hanya ingin saya berdiri di Hadirat-Nya, dalam keheningan, demi Dia semata-mata dan bukan demi apa pun yang dapat Dia anugerahkan kepada saya. Bersama Pemazmur saya hanya bisa berkata, “Berbahagialah mereka yang Kau pilih untuk mendekati-Mu dan tinggal di pelataran-Mu! ” (Mazmur 65/64:5).

Kejutan Setiap Hari.

Bagi seorang rahib, setiap hari adalah hari kematian; salah satu ayat emas Karthusian adalah “Kau telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama Kristus dalam Allah” (Kol 3:3).

Sel Karthusian – tampak rahib sedang berlutut

Itu jugalah yang praktis saya rasakan di sini; terputuslah komunikasi langsung dengan dunia luar: tanpa koran, radio & TV. Tiada masa lalu, tiada masa depan, yang ada hanyalah Hari Ini. Sel menjadi makam harian bagi saya. Kami diperkenankan keluar dari sel hanya tiga kali sehari, yaitu untuk Misa komunitas (pagi), ibadat sore dan ibadat tengah malam. Berbagai kegiatan lain dilakukan di dalam sel masing-masing. Sel adalah arena perjuangan seorang rahib. Rahib Karthusian yang hidup dalam ketersembunyian diharapkan membiarkan diri dibentuk oleh selnya sehingga lama kelamaan ia bukan cuma mengucapkan doa dalam waktu-waktu tertentu saja melainkan seluruh hidupnya menjadi doa yang terus menerus. Seorang pertapa padang gurun menasehati seorang rahib muda, “Tetaplah tinggal dalam selmu, dan selmu itu akan mengajarkan kamu segala sesuatu!”

Kami diperkenankan bicara hanya pada acara rekreasi (mengobrol) hari Minggu (45 menit) dan Walk Day hari Senin, berupa 4 jam jalan lintas alam (16 km), entah hujan entah panas, entah bersalju entah berlumpur. Cross-country ini, yang tidak terdapat pada tarekat rahib lain, merupakan tradisi Karthusian sudah sejak dari zaman St. Bruno, demi keseimbangan jasmani dan rohani para rahib; tanpa sarana ini kami tidak mungkin saling kenal karena sepanjang hari sendirian di sel masing-masing.

Sebelum ini dengan mudah saya berhubungan dengan Anda sekalian lewat berbagai sarana komunikasi modern, sekarang hubungan terputus sama sekali. Surat-menyurat dibatasi pada keluarga/saudara dekat tiga bulan sekali; selama Advent dan Prapaska tak ada surat masuk maupun keluar, kecuali ditulisi “urgent”. Tidak setiap Biara Karthusian dilengkapi fasilitas komputer & internet, melainkan hanya biara induk di Perancis, biara kedua di Italia Selatan dan Parkminster. Namun akses internet hanya untuk Romo Prior dan Pembimbing Novis; rahib-rahib lain pada kesempatan khusus saja, sekali dua kali setahun!

Dikisahkan oleh Nikos Kazantzakis (sastrawan Yunani) dalam memoir-nya, ketika mengunjungi biara rahib-rahib Yunani, ia bertanya pada seorang rahib lanjut usia, “Apakah Anda masih bergulat dengan setan?” Dijawab demikian, “Oh tidak lagi! Saya semakin tua dan setan pun bosan dengan saya. Dia tak menggubris saya lagi, saya pun tak menggubris dia lagi.” Nikolas bertanya lagi, “Kalau begitu enak dong, hidup Anda menjadi santai-santai saja!” Rahib tua itu pun berkata, “Oh sama sekali tidak! Kini malahan lebih parah! Sekarang saya bergulat dengan Tuhan!”

Nah, saya yang baru berusia 52 tahun, dibilang tua ya tua, dibilang muda ya muda, malah lebih parah lagi: selain masih harus bergulat dengan setan, saya sudah harus mulai pula bergulat dengan Tuhan!

Pembimbing Novis kerap memperingatkan saya yang kerap menengok ke masa lalu atau pun cemas akan masa depan, “Bagi seorang rahib yang nyata-nyata ada hanyalah masa sekarang ini. Tak ada masa lalu, tak ada masa depan. Pola waktu seorang rabib bukanlah garis lurus horizontal dari masa lalu, masa sekarang, ke masa depan, melainkan lingkaran spiral vertikal, yang mengangkat ‘masa kini dan di sini’ masuk ke dalam ke ‘keabadian’! ”

Saya pegang pula nasehat dari seorang Yesuit Perancis masa lalu (Jean Pierre de Caussade, abad 18), “Untuk lepas dari tekanan batin akibat penyesalan akan masa lalu atau kecemasan akan masa depan, inilah aturan yang musti dilaksanakan: serahkanlah masa lalu pada Kerahiman Tuhan yang tanpa batas, pasrahkanlah masa depan pada Penyelenggaraan-Nya yang penuh kebaikan, persembahkanlah masa kini, sepenuhnya pada Kasih Tuhan dalam kesetiaan terhadap rahmat-Nya!”

Bergulat dengan segala macam kesukaran jasmani dan rohani ini, bila hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri, saya pasti kalah. Tapi sayayakin, kalau ini jalan panggilan Tuhan, tentu saya dapat bertahan karena Dia pastilah memberikan segala sesuatu yang diperlukan. Pesan St. Paulus selalu menghibur dan menguatkan saya, “Ia yang memanggilmu adalah setia, ia pula yang akan menggenapinya” (1 Tessalonika 5:24), “Tuhanlah yang telah membuatmu mampu menginginkan dan melaksanakan apa yang berkenan kepada-Nya” (Filipi 2:13).

Bunda Maria selalu menjagai anak-anaknya, juga saya meskipun saya anaknya yang kurang ajar! Di bulan April y.l., Hari Minggu Kerahiman Ilahi, setelah saya, dengan mohon doa Bunda, memantapkan niat untuk masuk Novisiat Karthusian, di depan pintu sel L saya temukan papan kayu lukisan Bunda Pertolongan Abadi (icon). Ternyata itu icon kesayangan milik Lazarus (postulan Inggris yang ditolak Romo Prior) yang ia wariskan kepada saya sebelum meninggalkan Parkminster, diiringi surat singkat, “Untuk Anda atas bisikan Bunda kita yang kudengar dalam batin!” Icon asli, berasal dari abad ke-15, disimpan di Gereja St. Alphonsus, Via Merulana, Roma; copy ada juga di Gereja Novena yang terkenal di Singapura. Saya terima hadiah itu sebagai tanda peneguhan dari Bunda Maria. Kini setiap hari saya memohonkan pertolongan Our Mother of Perpetual Help/Succour bagi Anda sekalian.

Demikianlah saya hidup hari demi hari dalam hadirat Tuhan sebagai rahib yang dilatih untuk berpikir dan bersikap bahwa hari ini adalah hari kematian saya. Dalam tradisi Gereja dikenal dua jenis kemartiran: “kemartiran darah”, dialami oleh para martir yang dibunuh demi iman, dan “kemartiran kasih”, dialami oleh para rahib/rubiah yang menyerahkan diri sebagai tumbal cinta Ilahi dalam persatuan erat dengan Yesus, yang “menanggung kelemahan kita dan mengambil alih dalam diri-Nya segala penyakit kita” (Matius 8:17), yang “oleh bilur-bilur-Nya kita semua diselamatkan ” (1 Petrus 2:24).

Itulah sebabnya dalam setiap ibadat pagi kami berdoa bersama seturut ajaran St. Paulus, “Ya Allah, buatlah kami berdiri di hadirat-Mu, sebagai kurban yang kudus dan berkenan di hati-Mu!” (bdk. Roma 12: 1).

Di bulan-bulan awal saya di Parkminster, pikiran akan Cina masih menyertai saya. Ketika Romo Prior bicara tentang kemungkinan di masa depan membuka pertapaan Karthusian di Cina, saya pun spontan menawarkan diri. Sekali lagi, sama seperti jawaban para Superior Yesuit pada saya, Romo Prior pun cuma tersenyum lebar. Jawaban Jendral SY di Spanyol tahun lalu “Your blood is calling you!” membuat saya bertanya-tanya, jangan-jangan keinginan saya untuk menjadi misionaris di Cina hanyalah obsesi belaka gara-gara saya keturunan Cina!

Saya kini sadar, pertapa tak terikat lagi oleh ruang dan waktu; tak penting lagi di manakah ia tinggal; berkat Roh Kudus, doa-doanya menjangkau langit dan segala sudut bumi. Saya tak perlu ke mana-mana lagi! Selain kaul ketaatan dan kaul pertobatan hidup (mencakup kemiskinan dan kemurnian), rahib Karthusian mengikrarkan juga kaul stabilitas, yaitu tinggal sampai akhir hayat di biara tempat ia mengikrarkan kaul, kecuali mendapat tugas khusus dari Kapitel Jendral untuk pindah biara.

Saya teringat seorang pencari Tuhan dari Inggris, John Bradburne (1921-1971), pengembara juga seperti saya, yang selalu berpindah-pindah tempat, terpukau oleh kesunyian dan kesendirian dalam Tuhan, pernah tinggal di India, pernah mencoba beberapa biara kontemplatif di Inggris (di Parkminster selama enam bulan sebagai aspiran), di Belgia, di Palestina, dan akhirnya terdampar di Afrika, tepatnya di Zimbabwe. Di sana ia hidup belasan tahun sebagai pertapa yang melayani penderita kusta dan akhirnya wafat sebagai martir dan dikuburkan dalam jubah anggota ordo ketiga Fransiskan. Ia seorangpenyair dan salah satu sajaknya mengungkapkan perjalanan hidupnya.

Perkenankan saya menutup kisah ini dengan beberapa bait puisinya yang amat menggugah hati saya, a.l.: “Pengembara aneh yang tak tahu apa yang dicari, istirahat yang kau butuhkan tak terletak di bagian dunia sini, …. jauh kau telah mengembara untuk menemukan jiwa terdalammu, namun jiwa-jiwa menemukan kelimpahan kata justru dalam keheningan: Maka dari itu berdiam dirilah! Biarkan keheningan Tuhan mengutuhkanmu, karena hanya Dia yang dapat menenangkan pikiranmu yang kacau. … Cinta Tuhan dalam hatimu adalah tanah-airmu. Maka dari itu jangan cari yang lain, jangan pergi ke mana-mana lagi, karena engkau akan tetap gelandangan, kecuali Tuhan menawan hatimu” (dalam biografi John Bradburne yang ditulis oleh sahabatnya, John Dove, S.J., Strange Vagabond of God).

Akhirulkata, terima kasih banyak atas segala kasih persahabatan dan persaudaraan Anda kepada saya pribadi maupun keluarga saya; terutama Anda sekalian yang selama ini selalu membantu kami dalam perawatan Mami sehingga saya dapat masuk ke pertapaan ini dengan hati tenang.

Maafkanlah segala kesalahan kata maupun perbuatan saya, atau apa pun dari pihak saya yang tak berkenan di hati Anda, sesuatu yang amat mudah terjadi dalam perjumpaan kita bersama selama ini.

Kita senantiasa dipersatukan oleh Kasih Allah dalam doa-doa kita bersama.

Sampai jumpa lagi di mana pun Tuhan berkenan mempertemukan kita kembali, entah masih di dunia sini atau pun di dunia seberang, Shalom!

Salam dalam Kasih Tuhan,

Berkat-Nya senantiasa melimpah ruah atas Anda sekalian,

Dom Ambrose-Mary,

 

Parkminster, 7-7-’07

St. Hugh’s Charterhouse,
Henfield Road, Partridge Green, Horsham,
West Sussex RH13 – 8EB
GREAT BRITAIN – (Website: http://www.parkmins ter.org.uk/)

 

Day after day, O Lord of my life,
shall I stand before Thee, face-to-face.
With folded hands, O Lord of all worlds,
shall I stand before Thee, face-to-face.
Under the great sky, in solitude
and silence, with humble heart,
shall I stand before Thee, face-to-face.
(Rabindranath Tagore)

Advertisements

4 thoughts on “Raib jadi Rahib

  1. terima kasih utk menulis anda punya biography yg sangat menarik,akhirnya anda sampai di tempat tujuannya,hidup kadang2 sangat aneh . saya ada nonton film “into great silence” dan sangat tertarik melihat hidup petapa dan sangat kagum dan mengiri lihat bahwa mereka bisa menaruh sebabgian besar atau seluruh hidupnya dalam berdoa .kalu anda bersempatan baca komentar in ,saya mengucapkan best wishes atas hidup yg anda jalani dan harap juga berdoa utk kita orang2 yg hidup diluar ,kita2 yg sibuk setiap hari menjalani hidup biasa ,cari makan dan bayar rekening2 utk menunjang hidup dimasyarakat .
    james.

    Like

  2. @ James Lee: wah .. Pak James, memang kisah tersebut sangat menyentuh sekali. terlebih apabila kita amati dari awal kisah tersebut. namun, kisah tersebut bukan-lah kisah saya pribadi, melainkan sharing dan refleksi oleh seorang pertapa. memang kisah tersebut sangat mengugah. I’ve to admit that I’m not kind of person who is so inline with religion, but I do believe in God.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s