Berpergian dengan pesawat udara? Ada etika-nya lho

Ya benar sekali. Anda pasti pernah bepergian dengan menggunakan sarana transportasi pesawat udara. Apalagi saat ini harga tiket pesawat udara sudah dapat terjangkau oleh khalayak banyak.

Dan karena jasa/layanan penerbangan itu merupakan fasilitas umum, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar perjalanan kita dan orang lain dapat lancar tanpa ada masalah. Terlebih pada saat peak season seperti saat menjelang atau sesudah libur hari raya keagamaan dan Tahun Baru.

Bersabar

Layaknya fasilitas umum lain, demi keamanan bersadam biasanya kita sebagai calon penumpang sebelum sampai ke area check-in, maka kita melewati gerbang X-Ray. Dimana ketika melewati gerbang tersebut, seluruh tubuh kita akan diperiksa dengan metode X-Ray. Nah, biasanya kita selalu terburu-buru disini, karena mengejar barang bawaan kita yang sudah terlebih dahulu selesai diperiksa.

Tidak jarang kita temui, bahwa masih ada orang yang diperiksa oleh petugas dengan menggunakan detektor logam, namun orang dibelakangnya sudah buru-buru masuk dan mendesak orang sedang diperiksa tadi. Hal ini tentu saja sangat mengganggu dan membuat situasi tidak nyaman.

Apabila anda kebetulan pernah bepergian keluar negeri seperti misalnya ke Singapura, maka anda tidak akan pernah mendapati hal itu terjadi. Antrian benar-benar diterapkan dan dihargai demi kenyamanan, keselamatan semua orang. Percayalah, apabila anda tepat waktu dan sesuai anjuran ketibaan dibandara, maka anda tidak akan pernah tertinggal pesawat.

Persiapan

Biasanya pada saat check-in, kita sebagai calon penumpang akan dimintai tiket pesawat udara dan kartu identitas diri (dibandar udara Soekarno-Hatta, khususnya terminal 2) dimana kita dapat sekaligus membayar airport tax pada saat berada di counter check-in.

Demikian pula ketika akan menaiki pesawat, selain memeriksa boarding pass, para petugas juga akan sekali lagi memeriksa kartu identitas kita. Untuk menghindari agar tidak terjadi antrian yang panjang di counter check-in dan pada saat mengantri untuk naik ke pesawat sebaiknya anda persiapkan semua syarat yang dibutuhkan tersebut: tiket, kartu identitas, dan uang pas untuk ariport tax.

Anda pasti tidak ingin mengantri lama hanya karena ada calon penumpang yang teledor tidak mempersiapkan semua hal tersebut bukan?

Bawalah barang seringkas mungkin

Dengan semakin banyak maskapai penerbangan di Indonesia, maka persaingan menjadi semakin tajam. Strategi bisnis mulai dari perang tarif, adu tepat waktu keberangkatan/ketibaan, sampai dengan adu fasilitas beban barang yang boleh dibawah oleh setiap penumpang.

Tentu akan sangat membantu apabila kita diperkenankan membawa barang sebanyak-banyaknya kedalam pesawat. Tapi apakah ini akan membuat kita nyaman? Tunggu dulu. Saya sendiri berusaha untuk sesedikit mungkin membawa barang bawaan kedalam kabin, terlebih karena saya lebih sering bepergian dengan kelas ekonomi dibanding kelas bisnis/eksekutif. Tidak jarang  saya mendapati ada penumpang yang membawa travelling bag-nya kedalam kabin selain tas jinjing atau barang bawaan lainnya. Dengan fasilitas yang diberikan oleh maskapai udara, tentu ini merupakan kesempatan bagi anda, tapi apakah hal itu membuat penumpang lain nyaman?

Apabila anda membawa barang-barang yang sekiranya akan menyulitkan anda ketika akan masuk kedalam kabin pesawat udara, maka sebaiknya anda memilih untuk memasukan barang bawaan tersebut kedalam bagasi pesawat. Terkecuali barang bawaan anda tersebut sungguh teramat sangat berharga atau merupakan barang bawaan yang mudah rusak.

Tidak jarang penumpang-penumpang dengan extra luggage seperti itu akhirnya harus meletakkan barang bawaan mereka dibawah tempat duduk karena ruang penyimpanan diatas tempat duduk kita sudah penuh. Sangat tidak nyaman bukan? Apalagi bila jarak tempuh perjalanan anda lebih dari 2 jam, dimana besar kemungkinan anda akan dapat tersebut DVT (Deep Vein Thrombosis) atau dikenal juga sebagai Economy Class Syndrome.

Tidak usah buru-buru

Demikian pula ketika pesawat telah mendarat ditujuan. Para petugas dipesawat selalu menyarankan kita untuk tetap duduk sampai dengan lampu peringatan sabuk pengaman dimatikan. Nah, tidak jarang, baru saja sang petugas menyampaikan hal tersebut sudah banyak penumpang yang berdiri untuk kemudian membuka kabin tempat penyimpanan barang yang ada diatas kursi kita.

Yang menjadi pertanyaan saya, apakah para penumpang itu sadar bahwa hal itu berbahaya? Tidak hanya bagi mereka sendiri melainkan juga bagi orang lain. Pernahkah para penumpang itu berpikir bahwa bisa saja pesawat kemudian harus bergerak lebih cepat, dll?

Bayangkan saja, ketika anda memaksakan diri untuk berdiri padahal pesawat belum benar-benar berhenti pada posisi parkirnya, lantas tiba-tiba pesawat masih harus bergerak dan anda terjatuh karena hal ini, siapa yang rugi? Tentu bukan orang lain bukan?

Hal ini terutama sering saya dapati pada para penumpang kelas ekonomi. Padahal mereka tidak akan pernah bisa keluar dari pesawat udara, apabila para penumpang yang berada didepan (biasanya para penumpang kelas bisnis/eksekutif) belum beranjak dari tempatnya.

Jagalah kebersihan

Barangkali terkecuali helikopter dan pesawat jet tempur, bisa dipastikan pesawat udara komersil sudah dilengkapi dengan toilet. Nah, tidak jarang saya dapati toilet pesawat udara itu seperti layaknya toilet distasiun kereta api, atau pasar. Padahal sudah jelas tercantum ditoilet itu pengumuman agar kita dapat menjaga kebersihan (kering, tidak basah) toilet itu demi kenyamanan bersama. Biasakan selalu mengeringkan bak penampungan air cuci tangan (water basin) yang terdapat pada toilet tersebut setelah kita menggunakan-nya.

Demikian beberapa hal yang bisa saya bagi pada artikel ini, sebagai sebuah masukan bagi kita pengguna fasilitas umum. Apabila anda ingin nyaman dan aman, maka mulailah dari kita sendiri untuk menciptakan situasi yang nyaman dan aman bagi sekitar kita.

Terkecuali bila anda menggunakan pesawat pribadi anda, maka semua hal diatas tentu dapa tanda abaikan. Demikian, semoga bermanfaat.

Advertisements

2 thoughts on “Berpergian dengan pesawat udara? Ada etika-nya lho

  1. Info yang berguna, selama ini memang banyak menjumpai penumpang pesawat yang secara tidak sadar membuat penumpang lain tidak nyaman.
    Mengenai penggunaan telepon selular di dalam pesawat bagaimana om? Apakah benar itu bisa mengganggu navigasi, atau sekedar teori? Karena saya pernah baca di beberapa negara Eropa tidak dilarang menggunakan telepon selular di dalam kabin.

    Like

  2. MUNGKIN mengganggu navigasi dalam pesawat tp ngga harus. Lebih ke arah soft skillnya:
    1. Masih banyak org yg ngga sopan dlm telpon. Teriak2, marah2, nangis dan kenceng bgt ngomongnya seolah2 dunia milik dia sendiri aja.
    2. MUNGKIN bisa menganggu navigasi.
    3. Kalau kita di darat, telpon kita “cuma bisa” connect dgn 1 channel & 1 tower – lah kalau di udara, phone kita bisa overwhelmed with all available channels & all available towers. Akhirnya phone bekerja lebih keras, and battery lebih cepet abis. Nyari lagi deh kita with charger — lah charge emangnya gak pake energi (listrik la, apa deh).

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.