Industrial Photography 101 – Bagian #3

PR4A0328
Foto para pekerja dilapangan migas lepas pantai oleh Zaky Arsy

Pada setiap kegiatan pasti ada aturan; tertulis maupun tidak, yang mau tidak mau harus kita taati untuk dapat melakukan kegiatan tersebut. Tidak terkecuali kegiatan fotografi industrial. Pada artikel sebelumnya (Industrial Photography 101 – Bagian #1 dan Industrial Photography 101 – Bagian #2) saya telah menyampaikan beberapa diantaranya.

Kali ini, saya akan sharing mengenai sertifikasi yang kerap dibutuhkan terkait dengan industrial photography. Sertifikasi yang saya maksud disini bukan merupakan sertifikasi fotografi yang didapat dari kursus atau ijazah yang diperoleh dari pendidikan, melainkan sertifikasi pendukung.

Jadi sertfikasi yang saya maksud disini bukan untuk membuktikan kompetensi seseorang dalam bidang fotografi. Sertifkasi-sertifikasi berikut diperoleh setelah dinyatakan lulus mengikuti pelatihan/training yang terkait dengan sertifikasi tersebut.

Kenapa saya sebut sertifikasi pendukung? Karena memang sifat serta fungsi dari sertifikasi berikut tidak mutlak dimiliki oleh setiap fotografer yang akan menekuni genre fotografi industrial.

Selain sertifikasi dan pelatihan yang saya jelaskan dibawah ini, salah satu hal yang wajib dimiliki sebelum dapat mengikuti pelatihan-pelatihan berikut adalah surat keterangan sehat dan hasil pemeriksaan kesehatan/medical check-up dari rumah sakit.

Penjelasan berikut berangkat dari pemahaman serta pengalaman saya sebagai industrial photographer yang kerap memberikan layanan fotografi kepada industri minyak dan gas. Jadi bisa saja, sertifikasi-sertifikasi yang dijelaskan dibawah ini, tidak relevan dengan industri lain seperti pertambangan, manufaktur, transportasi dan konstruksi. Walaupun industri-industri tersebut diatas tetap mengedepankan faktor keselamatan dan keamanan dalam bekerja.

Basic Offshore Safety Induction and Emergency Training (BOSIET)

Bagi para pekerja di industri minyak dan gas yang akan bertugas pada lokasi kerja lepas pantai atau kerap disebut sebagai offshore, adalah sebuah kewajiban untuk mengikuti pelatihan BOSIET dan dinyatakan lulus dalam mengikuti pelatihan tersebut.

Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk memberikan pemahaman yang benar serta kesadaran tentang keselamatan kerja dan bagaimana memberikan respon apabila sedang dalam situasi yang berbahaya.

BOSIET terbagi menjadi 4 modul, yaitu:

  • Safety Induction
  • Sea Survival and First Aid
  • Fire Fighting and Self Rescue
  • Helicopter Safety and Escape (HUET)

Apabila disimak, ke-4 modul tersebut semuanya adalah mengenai penyelamatan diri ketika berada pada situasi yang berbahaya pada lokasi kerja lepas pantai.

Karena titik berat pada pelatihan-pelatihan tersebut diatas lebih banyak berisi materi mengenai penyelematan diri diatas air, maka kemampuan untuk bisa berenang adalah sebuah keharusan.

Pelatihan-pelatihan tersebut diatas tidak harus dilaksanakan sekaligus. Biasanya para penyedia jasa pelatihan BOSIET, juga menyediakan paket pelatihan yang modular, atau modul pelatihan dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan. Misalkan, hanya mengambil modul pelatihan Sea Survival saja atau modul pelatihan Helicopter Safety and Escape saja.

BOSIET sendiri dibagi menjadi 2 jenis:

  • BOSIET Cold Water
  • BOSIET Tropical

Dari namanya, jelas dapat dengan mudah kita pastikan perbedaan dari kedua jenis pelatihan tersebut. Kenapa harus dibedakan? Karena dapat dipastikan, bahwa tindakan yang kita harus lakukan pada situasi yang berbeda juga membutuhkan respon yang berbeda juga.

Hydrogen Sulphide (H2S) Training

Sertifikasi selanjutnya yang juga penting dan fundamental adalah yang didapatkan dari mengikuti pelatihan Hydrogen Sulfida (H2S).

Anda mungkin pernah menyimak berita mengenai pekerja penggali sumur yang meninggal dunia ketika sedang melakukan pekerjaan menggali sumur. Kondisi lemas, pusing, mual-mual dan dalam waktu yang relatif singkat kemudian meninggal.

Nah, hal semacam itu besar kemungkinan disebabkan karena keracunan Hydrogen Sulfida.

Hydrogen Sulfida (H2S), adalah gas yang tidak berwarna, beracun, mudah terbakar dan berbau seperti telur busuk. Gas ini dapat timbul dari aktivitas biologis ketika bakteri mengurai bahan organik dalam keadaan tanpa oksigen (aktivitas anaerobik), seperti di rawa, dan saluran pembuangan kotoran. Gas ini juga muncul pada gas yang timbul dari aktivitas gunung berapi dan gas alam.

Dengan sifat alamiah yang semacam itu, maka gas Hydrogen Sulfida (H2S) kerap kita jumpai pada lokasi kerja pertambangan serta lokasi-lokasi yang merupakan konsentrasi produksi gas alam/LNG.

Pelatihan ini bertujuan untuk mempersiapkan mereka yang akan bekerja pada lokasi yang rentan dengan terhadap gas tersebut. Bagaimana harus bersikap serta apa yang harus dilakukan ketika terdapat kebocoran gas tersebut.

Hazardous Area Training

ATEX adalah sebuah kebijakan yang diwajibkan di Eropa dan juga Amerika. ATEX mengatur mengenai penggunaan perangkat elektronik dan mekanis pada lokasi kerja berbahaya. Lokasi berbahaya yang identik dengan buangan/bocoran gas yang mudah terbakar.

Tidak banyak memang industri di Indonesia yang mewajibkan pelatihan dan sertifikasi yang satu ini. Namun pada industri minyak dan gas, pelatihan ini juga merupakan salah satu aspek yang utama dalam menjamin pemahaman yang baik terhadap cara kerja yang aman.

Hubungannya dengan Fotografi

Bagi seorang fotografer yang menekuni fotografi industrial, tentu pemahaman yang baik mengenai hal tersebut diatas adalah sesuatu yang mutlak serta tidak bisa ditawar.

Mengapa demikian?

Seperti yang sudah saya sampaikan pada artikel-artikel sebelumnya, banyak kondisi yang langsung maupun tidak langsung menempatkan kita pada situasi yang berbahaya ketika sedang menjalani penugasan dari klien.

Pilihan untuk memiliki sertifikasi atau mengikuti pelatihan-pelatihan tersebut diatas tentu berada pada masing-masing fotografer. Dibutuhkan investasi yang tidak sedikit memang untuk dapat mengikuti pelatihan-pelatihan tersebut.

Secara nominal, pelatihan serta sertifikasi tersebut diatas membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dengan nilai kurs US$ Amerika seperti saat ini, kisaran dana yang dibutuhkan adalah mulai dari angka Rp. 15.000.000,- bahkan lebih. Itu belum termasuk biaya akomodasi dan transportasi yang dibutuhkan selama mengikuti pelatihan.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan pertanyaan dari salah satu klien saya mengenai pelatihan dan sertifikasi tersebut diatas. Ternyata ada salah satu stasiun TV swasta di Indonesia yang akan melakukan kegiatan peliputan ke salah satu lokasi produksi minyak dan gas milik klien saya yang berada di lepas pantai. Dan oleh puncuk pimpinan tertinggi dilokasi kerja tersebut, para jurnalis yang akan melakukan peliputan diwajibkan memiliki sertifikasi Sea Survival sebelum dapat melakukan peliputan dilokasi kerja tersebut.

Bila Anda memang serius menekuni genre fotografi industrial, maka tentu nominal diatas tidak telampau berat karena hal tersebut merupakan investasi jangka panjang, sebagiamana layaknya Anda melakukan investasi perangkat fotografi.

Bila Anda tertarik untuk memiliki sertifikasi serta ingin mengikuti pelatihan tersebut diatas, maka salah satu penyedia jasa pelatihan yang saya rekomendasikan adalah PT. Samson Tiara.

Saya akan lanjutkan penjelasan mengenai industrial photography pada artikel selanjutnya. Demikian. Semoga bermanfaat.

[wpdevart_youtube]dk7LKxM3mqY[/wpdevart_youtube]

Advertisements

2 thoughts on “Industrial Photography 101 – Bagian #3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s