Andaikan Romo Mangun dan Gus Dur punya akun Twitter dan Facebook; dan para praktisi “Ilmu Kutip”

Andaikan saja ya; apa kiranya yang akan beliau berdua torehkan pada akun Facebook dan Twitter mereka.

  • Gus Dur berbagi guyonan segarnya dan cerdas itu via Twitter dan Facebook. Lantas Romo Mangun berbagi idealismenya mengenai pendidikan di Indonesia yang beliau sudah rintis dan terapkan di Sekolah Dasar Kanisius Eksperimental (SDKE) via Facebook?
  • Apakah Gus Dur dan Romo Mangun akan turut meramaikan ranah jejaring media sosial dengan kelaziman foto selfieusfie, wefie atau fie-fie lain?
  • Apakah akan memenuhi akun-akun mereka dengan khotbah mengenai agama, cara hidup religius menurut caranya masing-masing yang menggambarkan serta identik dengan predikat mereka sebagai rohaniawan?
  • Mungkin karena latar belakang budaya Jawa yang sama, mereka malah akan berdogeng dalam pakem bahasa Jawa yang maha halus sehingga hanya dapat dipahami oleh segilintir orang saja?
  • Bisa jadi, Gus Dur dan Romo Mangun malah menjadi buzzer dengan pertimbangan beliau berdua adalah tokoh kenamaan dan pasti memiliki jumlah pengikut/follower yang banyak pada ranah media sosial.
  • Bahkan, bisa saja menjadi pesakitan dan mendekam dibalik jeruji besi karena keterbukaan beliau berdua yang bagi sebagian kecil pihak (iya minoritas sekali jumlahnya, tapi banyak duitnya atau berpengaruh) dianggap mengancam tidur nyenyak pihak-pihak tersebut, dan akhirnya dijerat oleh UU ITE.

Ya, banyak skenario yang dapat bebas liar bermekaran didalam benak kita.

Skenario yang didasari pengalaman dan kenangan akan Romo Mangun dan Gus Dur. Pernah atau tidak pernah bertatap muka langsung.

Kita dapat mengenal Gus Dur dan Romo Mangun melalui contoh kehidupan yang dijalaninya. Melalui buah permenungan, pemikiran, tirakat panjang yang beliau lakukan sepanjang hidupnya, yang dapat dengan mudah kita amati didalam banyak literatur serta karya nyata.

Romo Mangun dan Gus Dur; Dynamic Duo

Siapa yang tidak kenal Kyai Haji Abdurrahman Wahid. Seorang ulama Islam kharismatik serta pernah menjabat sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia. Cendekiawan muslim yang pemikiran serta gagasannya telah menghasilkan banyak buah yang nyata di Indonesia. Gus Dur tidak hanya sebagai salah satu keturunan dari Kyai Hasyim sang pendiri Pesantren Tebu Ireng, melainkan beliau juga seorang humoris sejati.

“Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak tanya apa agamamu,” K.H. Abdurrahman Wahid.

Siapa pula yang tidak kenal dengan Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr. Seorang Imam/Pastor Katolik dari salah satu Keuskupan yang ada di Indonesia, yaitu Keuskupan Agung Semarang. Selain sebagai seorang Imam yang mengalami pembinaan ala seminari dalam lingkup Gereja Katolik, Romo Mangun juga dikenal sebagai budayawan, arsitek, penulis, aktivis kemanusiaan, pejuang kemerdekaan ketika sebagai anggota tentara pelajar dalam perang kemerdekaan Indonesia, serta pola hidupnya yang sederhana (baca: Meninggal, Pastor Wariskan Tabungan Rp. 1.100,00). Sederet prestasi dan penghargaan dari dalam dan luar negeri telah beliau terima.

“Anak-anak miskin hampir tidak mungkin untuk mencapai tingkat perguruan tinggi, ataupun sekolah menengah umum pun sering tidak tercapai,” Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr.

Dari sekian banyak kekhasan serta jasa beliau berdua bagi bangsa Indonesia, ada 3 hal yang menjadi persamaan mendasar. Persamaan yang identik dengan perilaku serta contoh yang beliau tampilkan, yaitu:

  1. Humanis
  2. Nasionalis
  3. Religius

Ketiga hal diatas saya urutkan berdasarkan pemahaman saya terhadap pribadi beliau berdua.

Humanis; karena Gus Dur dan Romo Mangun jelas dalam jejak rekam hidupnya mengutamakan sesamanya. Beliau tidak hanya hidup untuk diri mereka sendiri dan golongannya. Sebuah contoh nyata dari penghayatan hidup mereka sebagai (tokoh) agama dan budaya.

Nasionalis; karena Gus Dur dan Romo Mangun tidak membatasi pergaulannya. Tidak berbuat baik hanya kepada golongan mereka saja. Beliau berdua justru kerap kali bersuara lantang untuk membela kaum lain yang tertindas (baca: Mulai dari Presiden sampai Pengamen).

Religius; tidak hanya karena Gus Dur dan Romo Mangun didik, dibesarkan serta mendapatkan pendidikan formal dan hidup dalam lingkungan agama, melainkan tindak tanduk beliau menunjukan bahwa keberadaan beliau berdua sebagai rohaniawan dan tokoh agama yang menjadi berkah bagi orang lain.

Hidup religius Gus Dur dan Romo Mangun tidak semata-mata terwakili melalui bicara (khotbah pada forum keagamaan) melainkan ditampilkan serta ditunjukan dalam keseharian ditengah masyarakat.

Melalui perilaku kehidupan beliau, maka kita semua dapat memastikan bahwa Romo Mangun dan Gus Dur adalah agamawan/rohaniawan sejati.  Beliau menampilkan ke-religiusan tidak melalui kata-kata, tanpa pencitraan, tanpa menghujat, tanpa merendahkan orang lain.

Beliau melakukan syiar dengan cara memberi contoh dalam perilaku sehari-hari. Hubungan beliau dengan sekeliling yang tanpa batas adalah sesungguhnya sebuah bentuk pewartaan yang paling nyata.

Pewartaan yang mendapatkan penghormatan serta penghargaan oleh banyak kalangan pada akhir hayat beliau berdua. Tidak hanya di Indonesia melainkan sampai ke luar negeri.

Gus Dur dan Romo Mangun tidak haus akan pengakuan atas hidup religiusnya, beliau pun tidak lapar akan penghormatan bahwa mereka adalah pemimpin dalam agama yang mereka anut. Beliau berdua selalu tampil pada setiap terjadinya peristiwa ketidakadilan yang terjadi di negeri ini.

Sifat serta contoh hidup yang beliau berikan tersebut mengingatkan saya akan ungkapan dari salah seorang pahlawan nasional kita, yaitu Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ.

YFL_3376

Sebuah ungkapan yang menabuh semangat nasionalisme kita dalam rangkaian hidup beragama yang beragam di negeri ini.

Negeri yang sejak awal berdirinya dibentuk dengan kesepakatan serta pemahaman dan korban (jiwa dan harta) yang tidak sedikit.

Bahwa negeri ini terdiri dari beragam latar belakang serta keragaman adalah suatu hal yang pasti dan tidak dapat ditawar.

Internet di Indonesia

Teknologi internet dan fasilitas jejaring media sosial saat ini menjadi salah satu media komunikasi yang efektif bagi banyak pihak. Disadari atau tidak, sepakat atau tidak, internet dan segala fasilitas turunannya (media sosial, dll) sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia saat ini.

Internet yang mulai dikembangkan oleh para ilmuwan dan akademisi di Amerika pada awal tahun 1980-an, saat ini bagi sebagian besar orang sudah mulai beranjak dari sebagai kebutuhan sekunder, menjadi kebutuhan primer.

Menurut APJII, pada laporan Profil Pengguna Internet Indonesia pada tahun 2012, didapati bahwa terjadi peningkatan yang signifikan terhadap pengguna internet di Indonesia.

APJI-1

APJI-4APJI-5APJI-6APJI-7

Masih menurut laporan APJII, pemanfaatan internet juga beragam. Mulai dari yang sekedar menggunakan internet sebagai kegiatan mengisi waktu luang, bahkan sampai kepada kegiatan yang lebih serius seperti berbisnis dan politik.

APJI-2

APJI-8

Berdasarkan data diatas, maka dapat dipastikan bahwa saat ini banyak pihak yang memanfaatkan internet seluas-luasnya demi melancarkan rencana serta tujuan akhir mereka. Manis dan pahit dari internet juga telah menjadi catatan tersendiri bagi peradaban manusia di muka bumi ini.

Sebut saja mulai dari revolusi Mesir yang diawali oleh ocehan-ocehan anak muda disana pada jejaring Twitter, kasus Prita Mulyasari, keberadaan akun Twitter Trio Macan, sampai riuh gemuruh kampanye pemilihan Presiden 2014 yang lalu.

Teknologi internet di Indonesia juga turut berjasa dalam membantu pertumbuhan industri kreatif di Indonesia. Banyak perusahaan startup bermunculan di negeri ini. Usaha yang dimulai serta diawaki oleh anak-anak muda Indonesia, contohnya adalah Dicoding, Kaskus, dan startup lainnya.

Namun tidak sedikit juga pahit di internet. Contohnya adalah keputusan pemerintah Republik Indonesia menutup beberapa situs berita di Indonesia yang dikategorikan oleh pemerintah sebagai penyebar paham radikalisme (baca: Menkominfo Blokir 70 Situs Terkait Terorisme dan Dewan Pers: 22 Situs yang Diblokir Bukan Produk Jurnalistik).

Walaupun pada akhirnya ada beberapa situs yang termasuk dalam daftar blokir tersebut yang kembali dibuka karena telah terbukti “aman” (baca: 7 Situs Masih Tetap Akan Diblokir Kominfo).

Sulit memang melakukan pengawasan terhadap aktifitas di dunia maya. Bahkan negara besar seperti Amerika, China dan Rusia juga mengalami kendala yang tidak sedikit. Mulai dari masalah dana, teknis pelaksanaan, sampai dengan isu hak azasi manusia serta hak kekebasan berpendapat.

Beberapa tahun yang lalu ketika berkesempatan bertandang ke China, saya sendiri mengalami pemblokiran akses terhadap layanan internet seperti Google, Twitter, Foursquare, dll.

Sebagai orang yang termasuk aktif dalam memanfaatkan teknologi internet, tentu saja pemblokiran tersebut menjadi kendala yang sangat saya rasakan. Banyak hal yang biasa saya lakukan menjadi terhalang dan dibatasi.

Saya sendiri sepakat dengan pemblokiran terhadap situs-situs serta konten yang membahayakan kebersamaan diatas keragaman yang ada di negeri ini. Terlebih situs-situs yang dengan jelas dan terang-terangan menistakan keberagaman.

“Ilmu Kutip” dan “Perang” Media Sosial

Pemilihan Presiden Republik Indonesia pada tahun 2014 yang lalu bisa jadi merupakan “perang” media sosial terpanas sepanjang sejarah Indonesia. Belajar dari keberhasilan pada pemilihan kepala daerah Ibukota Jakarta, para kontestan berlomba-lomba menjalankan siasat serta strategi digital mereka.

Menurut banyak analis, salah satu faktor yang menjadi kunci keberhasilan dari Presiden Joko Widodo mendapatkan suara rakyat adalah melalui jejaring media sosial. Tentu selain keutamaan-keutamaan lain yang menjadi ciri khas Presiden Joko Widodo, seperti kesederhanaan, kerelaan untuk berbagi, rendah hati, dll.

Namun apa lacur, “perang” media sosial itu ternyata masih berlangsung sampai dengan sekarang. Bahkan seolah demi mendukung dan menyemarakan “perang” tersebut, lantas bermunculan situs-situs internet baru yang mengklaim sebagai “produk pers/jurnalistik”.

Situs-situs internet baru tersebut seperti jamur pada musim hujan, merangsek kedalam sendi-sendi kehidupan berbangsa di Indonesia. Dan untuk mendapatkan perhatian serta demi mendapatkan pengunjung yang fantastis jumlahnya, mereka menerbitkan banyak berita yang akurasi serta sumbernya patut diragukan kebenarannya.

Berita dan informasi yang kerap kali mengedepankan curiga, tuduhan, serta tidak jarang fitnah demi alasan pemurnian ideologi atau dogma agama. Dan cenderung mengesampingkan asas-asas yang menjadi dasar terbentuknya Indonesia.

Hal-hal tersebut bagi beberapa pihak juga menjadi ladang bisnis baru pada ranah jejaring media sosial. Ladang bisnis yang menjanjikan keuntungan melimpah ruah bagi para pelakunya.

Layaknya bisnis, tentu tidak akan maju dan untung apabila tidak ada yang membeli. Nah, berita serta informasi yang disajikan oleh banyak media online antah berantah itu ternyata menjadi sebuah komoditas penting bagi sebagian pengguna teknologi internet.

Para pebisnis tersebut tahu persis, komoditas serta isu apa yang paling mudah “dijual” di negeri, apalagi kalau bukan isu soal agama dan latar belakang budaya. Disitulah para pebisnis itu meraup banyak keuntungan. Sensitifitas segelintir komponen masyarakat Indonesia yang merasa dirinya adalah warga yang agamis, menjadi celah bagi para pebisnis itu untuk melancarkan siasat dagangnya.

Teknologi memang dibuat untuk memudahkan hidup manusia. Namun bila tidak hati-hati dalam menggunakan kemudahan tersebut, maka alih-alih membantu kita untuk menjadi cerdas dalam menggunakan teknologi, kita justru terjebak kedalam situasi yang merendahkan kecerdasan kita sendiri.

Salah satu bentuk degradasi kecerdasan itu adalah dengan bermunculannya para praktisi “ilmu kutip”.

“Ilmu Kutip” bisa jadi hanyalah sebuah rekaan saya saja, namun dari fenomena yang berkembang sejak saat pemilu Presiden 2014 yang lalu, maka agaknya tidak terlampau salah bila saya merekayasa “ilmu kutip”.

“Ilmu Kutip” (menurut saya) adalah:

Sebuah kegiatan mengutip secara terus menerus mengenai informasi-informasi (online dan offline) terkait isu yang sedang marak menjadi perbincangan. Biasanya terkait dengan isu politik, hukum dan agama. Tanpa mengindahkan akurasi serta kebenaran sumber informasi.

Nah dari deskripsi diatas, maka dapat disimpulkan mengenai kriteria dan ciri-ciri para penganut dan praktisi “ilmu kutip” (saya sebut sebagai “kutipers”) ini, diantara yaitu:

  • Sangat suka dengan berita bombastis dan fenomenal.
  • Rajin mengutip tautan berita tanpa memastikan sumber berita.
  • Dengan modal mengutip, para kutipers sangat suka berdebat dengan menggunakan informasi yang mereka kutip.
  • Memiliki kecendrungan temperamental serta dapat mudah “meledak” bila dipertanyakan informasi yang mereka sebarkan.
  • Para kutipers dapat dipastikan adalah para pemalas yang merupakan konsumen konten (berita negatif) dan bukan produsen konten digital bermutu.
  • Mereka yang (mayoritas) hanya membaca tajuk sebuah tautan. Atau mereka yang benar-benar membaca keseluruhan berita namun tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu lantas kemudian meneruskan serta menyebarkan informasi tersebut ke jejaring media sosial mereka.

Beberapa manfaat yang (mungkin) mereka dapatkan adalah diantaranya sebagai berikut:

  • Menjadi tenar karena dianggap paham akan sebuah subyek berita
  • Menjadi tenar karena dianggap kritis terhadap berita yang dia kutip
  • Menjadi tenar dan paling benar karena sudah mengutip informasi
  • Menjadi tenar karena merasa sudah berbuat sesuatu bagi bangsa ini karena telah mengutip informasi

Salah? Tentu bila dipandang dari sudut kebebasan berpendapat tentu tidak salah. Tapi apabila informasi yang disebarkan itu adalah sebuah kebohongan, lantas apakah tindakan penyebaran informasi bohong itu tetap dapat dibenarkan?

Tidak mudah memang untuk tidak terjebak sebagai seorang kutipers. Terlebih karena saya termasuk pihak yang aktif menggunakan teknologi internet, termasuk jejaring media sosial.

Dibutuhkan kecerdasan memang untuk menggunakan teknologi internet, tidak sekedar birahi mengutip.

Gus Dur dan Romo Mangun punya akun Twitter dan Facebook

Kembali ke tajuk artikel ini; andaikan beliau berdua memiliki akun Twitter dan Facebook, apa yang kiranya akan Gus Dur dan Romo Mangun posting?

Berikut beberapa dokumentasi yang mungkin bisa mengajak imajinasi kita ketika membayangkan Gus Dur dan Romo Mangun dengan akun Twitter dan Facebooknya.

Beliau berdua tidak lepas dari kritik dan tuduhan. Bahkan Gus Dur tetap mendulang kritik atas segala tindakannya, seperti yang tercantum di Beda Ulama dan Paus: Gus Dur Orang Murtad atau Guru Perdamaian?.

Terlepas dari pro dan kontra yang ada, karya peninggalan beliau berdua masih, serta akan menjadi catatan sejarah yang tidak akan pernah dilupakan, mewarnai serta dicatat dengan tinta emas dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Gus Dur dan Romo Mangun memang bukanlah warga negara Indonesia yang paling berjasa serta memiliki budi baik bagi bangsa ini, banyak yang lain terlupakan dari pengamatan kita. Orang-orang yang berbuat dengan caranya masing-masing untuk menjaga persatuan di negeri ini, orang-orang yang melakukan yang terbaik yang mereka bisa untuk mempertahankan harkat dan martabat setiap insan dimuka bumi ini.

Gus Dur dan Romo Mangun juga manusia biasa, sama seperti saya dan anda. Manusia yang tidak lepas dari salah dan khilaf. Tapi beliau berusaha untuk berbuat yang terbaik, tidak hanya bagi agama yang mereka anut, melainkan juga bagi orang-orang yang ada disekitarnya.

Gus Dur dan Romo Mangun adalah contoh nyata para pejuang kesetaraan. Tidak terjebak dalam sempitnya pemahaman akan Iman yang beliau yakini. Beliau adalah pejuang yang telah mengatasi segala perbedaan yang ada dengan sekuat tenaga dan sumber daya yang dipercayakan oleh Sang Khalik kepada beliau berdua.

Semoga kita tidak terjerumus sebagai kutipers yang kecerdasannya diremehkan karena kegiatan kutip mengutip informasi secara sembarangan.

Keterangan: 

Silahkan menyimak informasi ini juga: Panduan Mengelola Informasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s