Memotret dengan RASA atau NERACA

Beberapa hari belakangan ini ramai jadi perbincangan tentang sebuah diskusi antara seorang fotografer dengan calon kliennya. Yang membuat perbincangan diantara mereka ramai itu adalah soal harga/tarif sang fotografer. Perbincangan itu menimbulkan banyak reaksi; ada yang setuju dengan sang fotografer, namun tidak sedikit pula yang sepakat dengan si calon klien.

Sebenarnya hal itu bukan sesuatu yang baru, dan tidak saja terjadi pada ranah fotografi komersial (kegiatan fotografi yang berbayar) melainkan juga terjadi pada banyak bidang ekonomi lainnya, terlebih pada ranah industri kreatif.

Soal Harga

Sang fotografer sebagai pemberi jasa, tentu ingin mendapatkan imbalan yang menurut dia pantas dia terima atas jerih payah yang nanti akan dia lakukan. Pada sisi yang lain, sang calon klien tentu ingin mendapatkan layanan yang maksimal dan dengan harga yang termurah. Sebuah logika ekonomi yang kerap diterapkan oleh banyak orang bukan? Termasuk kita sendiri. Kalau memang bisa dapat harga murah dengan kualitas yang bagus, lantas kenapa harus mahal.

Wajar kan ūüôā

Nah, kalau ditanya wajar atau tidak, tentu kita akan memberi respone sesuai dengan posisi kita. Kalau sebagai fotografer atau pelaku ekonomi kreatif, tentu tarif yang diminta oleh sang calon klien itu tentu amat tidak wajar. Tapi bagi sang calon klien, harga yang dia sampaikan, adalah sesuatu yang wajar. Apalagi kalau tidak salah, ada kalimat yang disampaikan oleh sang calon klien sebagai berikut:

Saya juga tau berapa biaya2 untuk nyetak dan lain2.

Dari kalimat itu, mari kita berasumsi bahwa sang calon klien sebelum meminta penawaran harga dari sang fotografer telah sebelumnya melakukan riset mengenai berapa tarif pasaran dari fotografer sesuai kebutuhan dia.

Lantas para fotografer mungkin saja ada yang berkomentar demikian:

  • Dapat referensi harga darimana/dimana dia segitu?
  • Lah, itu gila yah fotografer yang nawarin segitu?
  • Mau makan apa kalau tarifnya segitu?

Dan mungkin sederet komentar atau pertanyaan lainnya.

Seperti yang sudah saya sampaikan diawal, bahwa soal tarif jasa fotografi ini bukan barang baru serta karena tarif itu terkait dengan nominal uang (baca: finansial) maka berlaku hukum ekonomi. Tanpa perlu kita menyelidiki lebih jauh, bisa jadi referensi harga yang diperoleh dari sang calon klien adalah sebuah akibat dari bermunculannya banyak fotografer baru yang berusaha untuk masuk ke dalam ranah fotografi komersial.

Hukum Ekonomi kalau tidak salah menjelaskan demikian:

Semakin banyak pasokan, maka harga akan semakin murah.

Salah? Tentu tidak. Justru baik adanya. Karena dengan semakin banyak pemain maka terjadi persaingan (yang sehat) diantara para fotografer dan tentu hal itu (semoga) berimbas positif kepada para calon klien karena tersedia banyak pilihan, walaupun tidak semua pillihan yang tersedia akan memberikan hasil serta kualitas yang sesuai dengan kebutuhan para klien itu.

Saya kerap mendapati beberapa kawan yang menawarkan jasa fotografi untuk prewed dan wedding dengan tarif antara Rp. 1.750.000,- sampai Rp. 2.500.000,-. Jasa mereka sudah termasuk jasa fotografi itu sendiri, biaya untuk mencetak album foto (20 sampai 30 halaman) dan juga 1 atau 2 lembar foto yang akan dipajang di lokasi resepsi pernikahan.

Atau coba saja, sesekali anda bila kebetulan sedang bertandang ke Jakarta, lantas datang ke Museum Fatahilah Kota Tua Jakarta. Pada setiap akhir pekan, anda akan mendapati banyak pasangan yang sedang berpose untuk difoto oleh para fotografer. Coba iseng-iseng tanya berapa tarif mereka untuk setiap pemotretan seperti itu. Nah, bila sempat melakukan hal itu, maka anda tentu tidak akan heran dengan isi perbincangan yang viral itu.

Bila berdikusi soal tarif, rasanya waktu yang ada tidak akan cukup. Mengapa demikian? Karena banyak faktor yang mempengaruhi harga/tarif dari seorang fotorgafer.

Profesi Fotografer

Seorang fotografer senior pernah berseloroh demikian:

Mau jadi fotografer karena sudah telanjur kaya, atau jadi fotografer karena ingin kaya.

Almarhum Kristupa Saragih pernah berujar demikian:

Jangan jadi fotografer deh. Karena ga akan bisa kaya.

Ada yang jadi fotografer karena secara finansial sudah lebih dari cukup dan memiliki sederet perlengkapan yang dibutuhkan untuk membuka studio sendiri. Ingin menjadi fotografer karena memandang bahwa profesi fotografer itu keren, kesana kemari nenteng kamera dan bisa dikenal banyak orang. Adapula yang menekuni fotografi sebagai profesi karena hati nurani, karena ingin menumpahkan segala rasa yang ada didalam hati dan menyampaikan berjuta kisah melalui media visual. Dan adapula yang memang menjadi fotografi karena tidak memiliki pilihan lainnya. Adapula yang menekuni fotografi sebagai sampingan. Maksudnya adalah sang fotografer sebenarnya memiliki pekerjaan tetap, namun kemudian memanfaatkan waktu-waktu senggang (misalnya akhir pekan) untuk menjalani profesi sebagai fotografer. Setiap alasan tentu memiliki perhitungan tarif masing-masing.

Bagi yang sudah terlanjur kaya, kegiatan fotografi bisa saja menjadi sebuah status dan bersifat opsional, ya kalau ingin motret ya motret. Tapi kalau tidak ya ga masalah juga. Tapi bagi yang benar-benar menafkahi hidupnya dan keluarganya dari kegiatan fotografi, tentu akan berbeda ceritanya. Tidak motret berarti tidak makan.

Bagi saya, bukan soal kaya atau tidak, melainkan lebih kepada kemampuan untuk bisa hidup layak atau tidak. Hidup layak yang saya maksud adalah bisa membayar seluruh tagihan bulanan, memiliki tabungan yang cukup untuk masa depan, dan bagi yang sudah berkeluarga maka mampu menyekolahkan anak sesuai kemampuan belajar si anak, bisa berobat dan mendapat pelayanan kesehatan yang baik, dan yang terpenting adalah bisa memiliki tempat berteduh yang layak, aman serta mampu memenuhi kebutuhan pangan 4 sehat 5 sempurna.

Bila kemudian bisa masuk dalam kategori kaya, itu tentu saja bonus bukan ūüôā

Sebagai sebuah profesi yang sangat erat kaitannya dengan kreatifitas, maka sulit sekali untuk mematok berapa tarif jasa fotografi yang tepat. Sekitar 2 tahun yang lalu saya pernah diminta oleh beberapa kawan untuk terlibat dalam diskusi dan masuk sebagai tim perumus tarif fotografer di Indonesia. Respon saya ketika itu adalah terkejut. Terkejut karena bagaimana caranya untuk membuat sebuah tarif acuan bagi seluruh fotografer dari ujung Barat hingga ujung Timur Indonesia? Nyaris mustahil menurut saya, selain juga hal itu akan menimbulkan banyak sekali perdebatan.

Mungkin hal tesebut bisa dilakukan untuk proyek fotografi pada lingkungan lembaga negara/BUMN/BUMD, karena (kalau saya tidak salah) lembaga-lembaga seperti itu memiliki acuan harga/tarif untuk setiap pengadaan seperti yang sudah diatur sebelumnya. Seperti tarif/harga untuk proyek pembuatan jalan, pembuatan jembatan, dll, ada standarisasi yang menjadi acuan bagi seluruh peserta lelang.

Tapi apakah hal itu bisa diterapkan dalam bidang fotorgafi? Well, saya sih tidak paham caranya bagaimana, mungkin anda bisa memberikan pencerahan.

Jumlah Fotografer Profesional Meningkat

Semalam saya bertanya kepada 2 kawan saya yang merupakan ketua dari 2 asosiasi fotografi di Indonesia, yaitu: Mas Lucky Pransiska dan Mas Harry Reinaldi. Mas Lucky adalah Ketua dari Asosiasi Pewarta Foto Indonesia, dan Mas Harry Rinaldi adalah Ketua Harian dari Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia.

Melalui pesan singkat Whatsapp, saya mendapatkan informasi bahwa terjadi peningkatan jumlah anggota yang terdaftar pada masing-masing asosiasi tersebut.

Mas Lucky menjelaskan demikian:

  • Anggota PFI sekitar 1.500 orang
  • Anggota (terdaftar) PFI sekitar 800 orang
  • Jumlah anggota PFI sejak tahun 2015, meningkat 20% sampai 30% hingga sekarang

Sedangkan Mas Harry menjelaskan demikian:

  • Anggota APFI tahun 2016 sekitar 500 orang
  • Anggota APFI tahun 2017 sekitar 600 orang
  • Total anggota APFI adalah 1.100 orang

Itu adalah informasi semi resmi yang saya peroleh dari kawan-kawan pengurus asosiasi fotografi yang sudah berbadan hukum, bagaimana dengan para fotografer yang tidak atau belum terdaftar pada kedua asosiasi semacam itu?

Kalau kita simak (walaupun mungkin agak terseok-seok), para produsen perlengkapan fotografi di Indonesia juga masih sustain. Hal itu bisa kita simak secara kasat mata dengan beragamnya penawaran oleh para produsen perlengkapan fotografi, mulai dari kamera, flash, tas kamera, dll. Ditambah dengan beragam tawaran menggiurkan lainnya mulai dari diskon, gratis ongkos kirim, dan sederet penawaran lainnya dari toko-toko online yang juga bersaing untuk mendapatkan pasar.

Dengan kenyataan seperti itu maka tidak heran bila ada beberapa fotografer komersial kenamaan Indonesia yang berkata demikian:

  • Sekarang itu fotografer seperti kacang goreng.
  • Harga sudah tidak kompetitif lagi.
  • Parah !!! Masa harus segitu harganya.

Pada satu sisi, hal tersebut tentu memusingkan bagi para fotografer yang selama ini terbuai dengan para pelanggan setia mereka. Namun ketika ada “pemain baru” dengan jurus mereka masing-masing (harga salah satunya). Bagi para “pemain lama” yang tidak siap dengan situasi saat ini, maka hal itu adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi. Tidak sedikit fotografer komersial senior yang saat ini harus memilih profesi lain karena kebutuhan finansial.

Artikel ini tidak bermaksud untuk menggurui atau menasehati, melainkan lebih sebagai sebuah refleksi oleh rekan sejawat anda sebagai sesama fotografer, untuk lebih bertanggung-jawab terhadap profesi yang sama-sama kita cintai ini.

Berharga atau tidaknya, bermartabat atau tidak, mampu atau tidaknya kita menafkahi hidup dari fotografi menurut saya tidak tergantung oleh orang lain (baca: para pelanggan), melainkan tergantung kita sendiri.

Apakah kita berani untuk memberi edukasi kepada para klien dan calon klien, bahwa harga yang kita tawarkan itu adalah benar-benar harga yang bisa memenuhi kebutuhan mereka namun tidak mengorbankan kebutuhan mendasar kita sebagai pelaku fotografi komersial.

Kembali ke tajuk artikel ini: apakah kita memotret dengan rasa atau neraca? Mengapa tidak memotret dengan rasa dan neraca yang seimbang sehingga kita bisa hidup dengan layak?

Artikel saya lainnya tentang ini dapat disimak disini.

Dan berikut response dari beberapa kawan perihal artikel ini di Facebook:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s