Mengintip “Surga” di Utara Indonesia

Bagi banyak orang, melalui pemberitaan media massa, Natuna lebih dikenal dengan konflik dan perebutan kawasan oleh beberapa negara, seperti Cina, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Indonesia. Atau Natuna kerap juga dikenal karena potensi bahari dan sumber daya MIGAS-nya yang melimpah. Padahal Natuna tidak sekedar itu.

Pada tanggal 5 Mei 2019 hingga 11 Mei yang lalu, kami (Arbain Rambey, Barry Kusuma, Galuh Azhar Wicaksana dan saya) beruntung karena dengan dukungan dari BAKTI (Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi) dan juga KEMKOMINFO (Kementerian Komunikasi dan Informatika), kami berkesempatan berkunjung ke Ranai yang merupakan Ibukota Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

Perjalanan kami ke Natuna merupakan rangkaian dari inisiatif #yukjalanjalan yang sudah saya mulai sejak 2 yang tahun lalu untuk mengumpulkan beragam kisah dari penjuru pelosok negeri, khususnya daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar).

Sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Kepulauan Kei di Provinsi Maluku, silahkan menyimak kisah berikut ini dari Natuna.

Laut Sakti Rantau Betuah

Kira-kira demikian ungkapan yang identik dengan budaya masyarakat Melayu di Kepulauan Riau, termasuk Natuna.

Natuna terletak di bagian paling utara Indonesia. Pada masa kerajaan Majapahit dan kerjaan Sriwijaya, gugusan kepulauan Natuna merupakan kawasan persinggahan bagi para pelaut dan pedagang Nusantara. Baik sewaktu akan berangkat, maupun ketika kembali dari negeri Siam, Champa, Kamboha dan negeri Cina. Para pedagang dan pelaut itu singgah di Natuna untuk mengambil perbekalan air bersih atau perbekalan lainnya, dan juga sembari menanti cuaca membaik.

Untitled-2.jpg

Pada tahun 2017, Pemerintah Republik Indonesia meluncurkan Peta Baru NKRI, dan pada peta baru tersebut, kawasan gugusan kepulauan Natuna yang kerap disebut sebagai Laut Cina Selatan, diganti menjadi Laut Natuna Utara. Penggunaan nama Laut Natuna Utara oleh Pemerintah Republik Indonesia, hanya digunakan pada kawasan yang masuk dalam ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) dengan luas 200 mil laut.

Untitled-3

Karena letak Natuna yang sangat strategis pada jalur perdagangan internasional, terjadi saling klain oleh beberapa negara seperti Cina, Vietnam, Kamboja, Filipina, Malaysia dan juga Indonesia.

Tidak hanya karena letaknya yang strategis, kawasan Natuna juga memiliki kekayaan laut dan MIGAS yang melimpah. Bahkan menurut beberapa pakar, potensi cadangan MIGAS yang terdapat di Natuna itu sama dengan cadangan MIGAS yang terdapat di teluk Meksiko (GOM atau Gulf Of Mexico).

Setelah mengalami ketertinggalan selama bertahun-tahun, Pemerintah Republik Indonesia sejak tahun 2014, telah serius membenahi dan membangun di gugusan kepulauan Natuna, sebagai salah satu kawasan terdepan Indonesia. Salah satunya adalah dengan membangun infrastruktur telekomunikasi yang memadai bagi masyarakat Natuna dan sekitarnya.

Menuju Natuna

Tidak mudah dan murah memang menuju Natuna. Ada beberapa pilihan rute yang dapat dipilih untuk tiba di Ranai, yaitu dengan pesawat udara dan juga dengan kapal laut.

Untuk jadwal penerbangan tersedia 3 kali dalam 1 minggu. Kamu bisa menggunakan maskapai penerbangan apapun menuju ke kota Batam dan kemudian melanjutkan perjalanan kembali menuju Ranai dengan durasi tempuh sekitar 1 jam 30 menit atau 1 jam 45 menit.

Saat ini maskapai yang melayani penerbangan langsung dari Jakarta menuju ke Ranai adalah Sriwijaya. Namun menurut informasi dari beberapa kawan, tidak jarang penerbangan Sriwijaya dari Jakarta menuju ke Natuna itu mengalami pembatalan ketika sampai di Batam dan para penumpang harus transit selama 1 hari di Batam.

Seperti pada perjalanan #yukjalanjalan sebelumnya ke daerah lain, kami memilih Garuda Indonesia dari Jakarta, dan transit 1 malam di Batam, kemudian melanjutkan penerbangan kembali ke Ranai dengan menggunakan maskapai Wings Air (ATR 72-500) dengan durasi tempuh 1 jam dan 45 menit.

Screenshot_20190512-180103_Connect

Sedangkan bila ingin menempuh perjalanan ke Ranai dengan menggunakan kapal laut, maka kamu bisa menggunakan jasa pelayaran kapal penumpang dari PELNI. Namun sayangnya layanan tersebut tidak dapat dipastikan jadwalnya, dan tidak tersedia setiap minggu. Sehingga moda transportasi yang paling relevan digunakan saat ini adalah dengan menggunakan transportasi udara.

Ketersediaan sarana transportasi menuju dan dari Natuna inilah yang membuat tidak semua orang dapat dengan leluasa berkunjung ke Natuna, selain itu juga tarif transportasi udara yang sangat mahal, menjadi kendala tersendiri. Berkunjung ke Natuna untuk berlibur memang dibutuhkan usaha ekstra.

Mengintip “Surga” di Utara Indonesia

Dari ribuan pulau yang ada di Indonesia, agaknya tidak terlampau berlebihan saya mengatakan Natuna itu “surga”. Walaupun berada di garis paling depan Indonesia, Natuna menyuguhkan beragam potensi alam, wisata dan budaya yang sungguh memperkaya khasanah keberagaman di Indonesia.

Di Natuna, saya bisa menyimak 2 buah tempat yang ibadah yang terletak berdampingan. Tepatnya di Penagi, sebuah kampung Pecinan yang kalau saya tidak salah, merupakan salah satu pemukiman tertua di Ranai.

Demikian pula ketika ramai pasar Ramadhan yang meyajikan beragam jajanan/takjil khas Melayu, tidak hanya masyarakat Melayu dan beragama Islam yang berbelanja disana, melainkan juga seluruh masyarakat Natuna tumpah ruah mencari jajanan. Sungguh sebuah pemandangan yang menyejukan, ditengah panasnya hawa politik Indonesia saat ini yang ternyata tidak mempengaruhi kerukunan masyarakat Natuna yang berada di ujung negeri.

Selain kearifan budaya dan tradisi masyarakat Natuna, yang tidak kalah memukau adalah alamnya. Kalau kamu familiar dengan gugusan pantai di Belitung yang identik dengan bebatuan granit berumur ratusan juta tahun itu, di Natuna juga memiliki hal serupa. Saya kurang paham mengapa demikian, agaknya secara geografis mungkin Natuna terletak pada lempengan Bumi yang sama. Tidak banyak pantai di Indonesia yang memiliki karakteristik seperti itu.

Banyak sekali kawasan pantai yang terdapat di Natuna, dari yang belum memiliki nama, hingga lokasi pantai yang sudah memiliki nama dan tersohor hingga ke luar negeri, seperti Alif Stone Park yang kerap menjadi lokasi berlibur oleh beberapa tokoh nasional dan internasional.

Juga ada kawasan pantai Jelita Sejuba yang pernah digunakan sebagai lokasi film dengan nama yang sama “Jelita Sejuba“.

Buat kamu yang punya hobi menyelam atau aktifitas laut, dijamin tidak akan menyesal datang ke Natuna. Karena selain pantai-pantai itu, juga terdapat 28 buah KMBT (Kapal Muatan Barang Tenggelam) atau shipwreck yang tersebar di Natuna.

Dan karena letaknya yang dikelilingi oleh lautan lepas, mayoritas masyarakat Natuna berprofesi sebagai nelayan. Tidak susah kita temukan pasar-pasar tradisional yang menjajakan hasil tangkapan laut. Dan tentunya juga hidangan kuliner yang rasanya susah untuk ditandingi tempat lainnya, karena kualitas tangkapan hasil laut Natuna yang bersih dan segar karena masih sangat minim polusi.

Jadi tidak heran mengapa Pemerintah Republik Indonesia, sangat berkepentingan dengan kekayaan hasil laut di Natuna dan berusaha sedapatnya untuk melindungi hasil laut tersebut agar dapat benar-benar mensejahterakan rakyatnya.

Perlindungan terhadap kawasan Natuna tidak hanya dalam bentuk pengawasan terhadap kekayaan hasil bumi Natuna, melainkan juga dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia dalam bentuk melakukan pembangunan disana. Tidak hanya pembangunan fisik, melainkan juga yang non-fisik.

Walaupun nun jauh di Utara, Natuna juga memiliki sarana kesehatan yang memadai seperti Rumah Sakit Umum Daerah, sarana pendidikan dari TK hingga perguruan tinggi, dan juga sarana lainnya. Termasuk salah satunya adalah tersedianya sarana komunikasi yang sangat memadai, melalui inisiatif Palapa Ring Barat (PRB) yang dilakukan oleh BAKTI beserta dengan mitra kerjanya.

Di Natuna, kami bisa menggunakan koneksi internet dengan kualitas kecepatan (upload dan download) yang tidak kalah dengan kota-kota besar seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya, dll.

Sehingga kalau suatu saat nanti kamu sempat menginjakan kaki di Natuna, tidak perlu khawatir kesulitan komunikasi dan mengunggah hasil swafoto kalian ke internet 😁

Karena selain koneksi internet yang disediakan oleh BAKTI secara gratis di 8 lokasi di Ranai, kualitas signal dari beberapa operator komunikasi seperti Telkomsel dan XL juga dapat kalian gunakan selama di Ranai.

Kreatifitas Natuna

Natuna tidak hanya “juara” dalam hal sumber daya alam, pariwisata dan kulinernya, tetapi potensi kreatifitas masyarakat Natuna juga tidak kalah dengan daerah lainnya di Indonesia.

Banyak kreator-kreator muda di Natuna dalam bidang musik, foto, film, budaya dan juga teknologi informasi. Ketika di Natuna kami mendapatkan informasi bahwa ada sekelompok anak muda yang membuat aplikasi semacam GoJek dan Grab yang diberi nama GoBuy (kalau tidak salah itu namanya). Namun sayangnya kami belum sempat bertemu dan berkenalan dengan mereka.

Informasi tersebut tentu saja membesarkan hati kita, karena walaupun berada di daerah terdepan dan jauh dari hingar bingar kota besar, tetapi anak-anak muda di Natuna tidak mau tertinggal dan tetap berkreasi dengan segala sumber daya yang mereka miliki.

Kami beruntung juga karena sempat bertemu, berkenalan dan berdiskusi dengan sebagian dari mereka.

Sekali lagi, kami beruntung karena bisa menginjakan kaki di Natuna dan mendapatkan pengalaman baru dan juga beragam kisah menarik serta penuh inspirasi dari Natuna; Surga di Utara Indonesia.

Silahkan subscribe kanal #yukjalanjalan di YouTube dan aktifkan notifikasinya, sehingga kamu tidak ketinggalan kisah-kisah selanjutnya dari penjuru pelosok Indonesia.

Salam #yukjalanjalan

One thought on “Mengintip “Surga” di Utara Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.