Yang Fotografer, Yang Programmer

Sejak tanggal 12 November 2019 sampai dengan 14 November 2019, akhirnya saya bisa kembali lagi ke Pulau Belitung (Kota Tanjung Pandan) setelah pada tahun 2007 saya pertama kali ke Belitung.

Pulau yang mulai dikenal banyak orang melalui film “Laskar Pelangi” besutan Riri Riza yang diadaptasi dari sebuah novel dengan tajuk yang sama karya Andrea Hirata; seorang penulis yang berasal dari Belitung Timur. Selain film itu, Pulau Belitung juga dikenal melalui seorang sosok politikus yang bersih, tegas dan juga fenomenal di Indonesia; Basuki Tjahaja Purnama.

Tapi kali ini saya tidak akan bercerita tentang Pulau Belitung atau tentang film dan para tokoh itu, melainkan saya ingin berbagi kisah tentang alasan saya bertandang ke Pulau Belitung kali ini.

Dicoding

Saat ini kita kerap mendengar kisah tentang usaha rintisan atau startup. Sebut saja perusahaan-perusahaan seperti GoJek, Bukalapak, Traveloka di dalam negeri, dan untuk luar negeri ada Grab, Spotify, dll.

Nah, keberadaan saya di Belitung kali ini, karena diajak salah satu startup terkemuka di Indonesia, yaitu: Dicoding. Sesuai dengan namanya dan seperti startup lainnya, Dicoding adalah usaha rintisan dalam bidang teknologi informasi.

Seperti yang bisa disimak pada laman resminya:

Visi dicoding adalah menjadi jaringan terbaik untuk developer di Indonesia. Dicoding memiliki dua misi utama. Pertama adalah membantu developer untuk menjadi entrepreneur yang mampu mengembangkan produk kelas dunia. Kedua adalah melahirkan talent digital sebanyak mungkin untuk industry IT di Indonesia.

Ajakan ke Belitung kali ini bukan untuk terlibat dalam proyek teknologi informasi mereka, atau membahas tentang teknik pemrograman, melainkan saya diminta untuk berbagi tentang dokumentasi visual (foto dan video) kepada para programmer dan tim Dicoding.

Dalam umur yang sangat “muda”, Dicoding sudah mampu melaksanakan kegiatan outing bersama dengan seluruh tim, layaknya kegiatan perusahaan-perusahaan besar lainnya yang sudah jauh lebih mapan. Kegiatan yang merupakan agenda tahunan Dicoding kedua sejak awal berdirinya sekitar 4 tahun yang lalu.

Salah seorang pendiri Dicoding; Narenda Wicaksono, yang saya kenal ketika masih sama-sama bekerja di Microsoft, ketika mengajak saya menyampaikan bahwa dia ingin agar tim Dicoding tidak hanya piawai dalam hal pemrograman komputer, melainkan juga terampil ketika membuat materi visual yang sesuai dengan visi dan misi Dicoding itu sendiri.

Walau saat ini saya berprofesi sebagai fotografer, namun sesekali saya juga tetap terlibat pada beberapa forum resmi dan diskusi tentang teknologi informasi, dan kesempatan berkunjung ke Belitung ini saya mendapatkan pengalaman yang seru dan menyenangkan, bukan saja karena saya bisa berkunjung ke Belitung lagi, melainkan saya berkesempatan berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar dokumentasi visual dengan para programmer yang sehari-hari berkutat dengan baris demi baris kode-kode komputasi.

Berada di tengah-tengah anak muda (rata-rata di bawah 30 tahun) yang super kreatif dan penuh dedikasi itu, membantu saya untuk menyegarkan diri kembali dalam berkarya.

Terima kasih Dicoding. Kudos !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.