Pernah tidak kamu mengalami situasi gawat darurat yang mengharuskan kamu untuk bergegas menyelamatkan diri di tempat kerja dan harus bercerita tentang insiden itu?
Di awal tahun 2000-an ketika masih bekerja di industri hulu migas, aku pernah dua kali menghadapi kondisi gawat darurat yang mengancam keselamatan jiwa di tengah laut ketika sedang terjadi proses pengeboran dan completion yang mengharuskan kami semua yang berada di atas anjungan pengeboran lepas pantai saat itu harus segera mengevakuasi/abandoned diri.
Proses evakuasi yang berlangsung singkat itu sebenarnya sudah bisa diprediksi akan seperti apa, karena di setiap lokasi kerja pengeboran dan produksi (offshore dan onshore) rutin dilakukan fire/emergency drill atau latihan simulasi evakuasi darurat yang dilakukan untuk melatih kesiapan (mental dan fisik) penghuni suatu fasilitas kerja saat terjadi keadaan gawat darurat.
Termasuk buat aku dan rekan-rekan kerjaku yang harus berpindah-pindah lokasi kerja dan tidak kerja menetap di satu anjungan pengeboran, karena bekerja di service company yang cakupan wilayah kerjanya di seluruh dunia.
Salah Langkah, Nyawa Taruhannya
Cuplikan film Deep Water Horizon (2016) yang dibintangi oleh Mark Wahlberg ini mungkin bisa menjelaskan dan memberi gambaran dari ceritaku di atas itu, walau tentu film ini dibuat dengan banyak efek agar lebih dramatis ketika ditonton.
Walau menyisakan trauma yang sempat bertahan beberapa tahun, namun aku juga bersyukur pernah mengalaminya. Karena dari pengalaman itu aku jadi belajar banyak untuk tidak memandang remeh prosedur seperti fire drill yang bersifat rutin itu dan menjadi bekal buatku ketika menjalani profesi sebagai fotografer industrial saat ini.
Bekerja di industri energi tidak sekedar dibutuhkan keterampilan teknis dalam menjalani proses bisnis panjang, padat modal dan teknologi itu, melainkan juga butuh kedisiplinan dalam mematuhi semua prosedur berlaku di lokasi kerja yang penuh dengan risiko tinggi terkait dengan keselamatan kerja dan lingkungan.
Dalam lingkungan kerja seperti di industri minyak dan gas, energi dan utility, manufaktur, konstruksi, petrokimia atau pertambangan (open-pit dan underground mining), menempatkan keselamatan kerja adalah unsur pertama dan paling utama dalam segala aspek bisnisnya.
Cerita Para Pekerja Energi
Kisah-kisah serupa pengantar artikel ini juga yang aku dapati dari para Perwira yang mengikuti program Jurnalis Perwira Pertamina (JPP) yang merupakan sebuah program besutan dari tim internal komunikasi PT Pertamina Patra Niaga. Oiya, Perwira yang aku maksud pada artikel ini adalah sebutan bagi para karyawan dan pekerja di lingkungan PT Pertamina (Persero).

Para peserta JPP adalah para pekerja yang setiap harinya bergumul dengan dinamika pengusahaan energi di negeri ini, mendapatkan kesempatan untuk bercerita dalam pelbagai bentuk tentang keseharian mereka di tempat kerja.
Ada yang berlatar belakang teknis produksi dan operasi, adapula yang berkutat dengan kendali mutu di ruang-ruang laboratorium serba steril, juga ada yang berprofesi sebagai dokter yang wajib memastikan semua orang yang bekerja di lingkungan produksi dan operasi telah memenuhi kaidah-kaidah keselamatan dan kesehatan, dan adapula yang bekerja secara tidak langsung dengan operasional dan produksi seperti pada fungsi manajemen risiko, fungsi penjualan dan pemasaran, hingga kawan-kawan peserta yang bekerja dalam bidang komunikasi dan kehumasan.
Melihat beragamnya latar belakang kawan-kawan peserta JPP itu, aku jadi teringat sebuah quote tentang angkatan kerja dari generasi milenial dan generasi Z oleh Kompas Institute:
“Gen Z dan Milenial sering bekerja berdampingan, tetapi cara mereka memandang pekerjaan tidak selalu sama—bukan soal siapa yang benar, melainkan bagaimana pengalaman sosial dan ekonomi yang berbeda membentuk pola kerja.” (Kompas Institute)
Dan persis seperti quote itu yang aku dapatkan dari kawan-kawan peserta JPP. Dengan versinya masing-masing, kawan-kawan peserta JPP menyampaikan kisah keseharian mereka dalam bentuk artikel, video reels, foto esai hingga video blog.
Kisah-kisah yang mereka sampaikan sangat dekat dengan keseharian mereka yang mayoritas berlangsung dalam senyap dan berada di belakang layar.
Yang bisa aku rangkum dari tahap penjurian awal hingga akhir, kisah-kisah itu berangkat dari pengalaman mereka yang sangat humanis tentang:
- Distribusi energi ke kawasan-kawasan pelosok Indonesia
- Peran cleaning service dalam rangkaian proses bisnis industri migas
- Prosedur panjang dan ketat untuk memastikan keselamatan dan kesehatan kerja
- Pekerjaan yang bersifat teknis administratif terkait dengan quality control
- Keterlibatan mereka dengan masyarakat yang berada di sekitar daerah operasional
- Rutinitas kerja mereka yang beragam sesuai mengikuti pergerakan matahari terbit dan terbenam
Serta kisah-kisah di belakang layar yang tidak kita ketahui serta pahami sebagai pengguna hasil kerja mereka.
Aku salut dengan usaha kawan-kawan peserta JPP yang tidak memiliki latar belakang jurnalistik itu, namun dengan segala keterbatasan waktu, perangkat dan tenaga, mereka tetap berusaha menyajikan informasi yang komprehensif tentang keseharian mereka dalam pelbagai aspek.
Kisah-kisah yang menurutku tidak berdiri sendiri, melainkan juga sebagai sebuah rangkaian kisah yang utuh. Rangkaian kisah yang mendukung kinerja setiap peserta JPP, karena dibutuhkan kerjasama yang baik antara mereka dengan dukungan dari manajemen dan juga rekan-rekan sekerjanya. Sehingga kisah dan informasi yang disampaikan benar-benar sesuai dengan fakta dan memenuhi kaidah-kaidah penyampaian informasi yang relevan dengan prosedur komunikasi.
Para peserta JPP yang terpilih sebagai pemenang itu, kemudian diajak untuk bersama-sama menghadiri perhelatan Pertamina Grand Prix 2026 dan melanjutkan kisah tentang bagaimana hasil kerja mereka hadir dalam setiap ruang lingkup keseharian dan kehidupan kita, termasuk menyampaikan kisah tentang peran yang signifikan PT Pertamina (Persero) dan segenap unit bisnisnya, termasuk PT Pertamina Patra Niaga sebagai salah satu sub holding PT Pertamina (Persero), dalam pelaksanaan balapan MotoGP di Mandalika.









Sebagai yang dipercaya untuk memilah, melakukan seleksi dan menilai hasil karya dari para peserta JPP itu, aku sangat impressed dengan karya kawan-kawan itu dalam menuangkan ide, kreativitas dan pengalaman mereka.
Berikut adalah beberapa hasil karya kawan-kawan JPP:
- Aziz Askaputra
- Ersya Asih Ferida & Ferdi Marulitua Simanjuntak
- Fahmi Afdhal Azhar
- Ferdi Marulitua Simanjuntak
- Meisya Primadita
- Freshly Leo C. Hutapea
- Muhammad Al Fatih
- Yusuf Efendi
- Andi Arifin
- Perliansyah
- Muhamad Nur Hidayat
Kembali ke tajuk dan kisah pengantar artikel ini, kawan-kawan JPP tahun 2026 kali ini berusaha untuk menyampaikan kisah-kisah yang dijalani sehari-hari, termasuk bagaimana risiko yang mereka harus tempuh dalam pekerjaan mereka, seperti layaknya para pembalap MotoGP yang harus sangat dengan perhitungan yang matang sebelum tancap gas melaju di lintasan balap, karena salah perhitungan maka nyawa adalah taruhannya.
Menurutku kawan-kawan peserta JPP berhasil dengan terampil bercerita dan menceritakan tentang pengalaman masing-masing di tempat kerja dan juga tentang perhelatan Pertamina Grand Prix 2026.
Pengalaman yang memiliki tujuan yang sama, yaitu mengupayakan ketersediaan energi bagi kita semua melalui tugasnya masing-masing.
Sebuah kerjasama yang apik antar manajemen dan pekerja di lingkungan PT Pertamina (Persero) di mana potensi yang dimiliki oleh para pekerjanya, diberi ruang untuk berkembang, tidak hanya untuk kepentingan perusahaan, melainkan bagi setiap insan yang bekerja di sana.
Terima kasih untuk PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina Patra Niaga yang sudah berkenan memberi kesempatan buatku untuk berdinamika bersama bercerita tentang energi dan menyaksikan langsung perhelatan Pertamina Grand Prix tahun 2026 di Mandalika yang menjadi kebanggaan kita bersama sebagai sebuah bangsa.
Discover more from Yulianus Ladung
Subscribe to get the latest posts sent to your email.