Geliat Industri Hulu Migas dan Industri Kreatif (Fotografi)

Kondisi harga minyak yang fluktuatif tidak menghalangi IPA (Indonesia Petroleum Association) untuk menggelar IPA Convention and Exhibition (IPA Convex) ke 39 pada bulan Mei 2015 yang akan datang.

IPA Convex adalah kegiatan konvensi dan eksebisi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara dalam bidang industri hulu MIGAS. Sebuah ajang dimana para pemain industri hulu MIGAS dari dalam dan luar negeri menampilkan karya, pencapaian, prestasi serta kendala yang mereka hadapi selama tahun 2014.

Sesuai tajuknya, kegiatan ini tidak hanya akan berupa pameran yang berisi booth perusahaan-perusahaan MIGAS, melain juga akan ada seminar yang mengetengahkan materi-materi seputar kegiatan industri hulu MIGAS itu sendiri.

IPA Convex pada tahun ini mengambil tema “Working Together to Accelerate Solutions in Facing Indonesia’s Energy Crisis” atau “Bekerja bersama untuk mempercepat solusi didalam menghadapi krisis energi Indonesia”.

Seperti yang sudah disampaikan diatas, saat ini industri hulu MIGAS sedang dalam situasi yang penuh tantangan, terutama terkait dengan naik turunnya harga komoditas minyak dunia (baca: Harga Minyak Dunia Kembali Turun untuk Sesi Ketiga Berturut-turut). Hal tersebut sama seperti yang dialami oleh kalangan industri pertambangan batu-bara.

Mengutip siaran pers oleh IPA:

“The theme is relevant to where Indonesia finds itself today: the country’s current rate of energy consumption and growth is exceeding its rate of production growth and exploration results in recent years have not found significant new hydrocarbon resources. As a result, Indonesia is facing an energy crisis where an increasing amount of oil and gas will need to be imported. All of this is happening in a volatile global energy landscape which is experiencing low oil prices andglobal capital constraints for oil and gas investment” said IPA President Craig Stewart.

Dengan kondisi yang semacam itu, membuat tantangan yang dihadapi oleh para pemain industri hulu minyak dalam mengelola serta mengembangkan aset industri hulu MIGAS di Indonesia menjadi semakin berat. Perusahaan-perusahaan tersebut dituntut untuk menjadi lebih kreatif, cost conscious, serta menjadi semakin peka terhadap dinamika yang terjadi di masyarakat.

Terutama karena industri hulu MIGAS masih menjadi salah satu sumber andalan pemasukan bagi APBN di Indonesia (baca: Kinerja Industri Hulu MIGAS). Kendala yang terjadi pada industri hulu MIGAS akan memiliki dampak langsung terhadap setiap insan di Indonesia.

Industri Kreatif di Indonesia

Sepakat atau tidak, industri hulu MIGAS memiliki peran yang sangat penting dalam roda ekonomi di Indonesia. Banyak industri turunan dan sekitarnya yang bergantung pada industri hulu MIGAS, tidak terkecuali industri kreatif di Indonesia.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada tahun 2014 telah menerbitkan sebuah dokumen resmi mengenai Ekonomi Kreatif di Indonesia yang bertajuk Rencana Aksi Jangka Menengah (RAJM) Ekonomi Kreatif Indonesia.

RAJM
Rencana Aksi Jangka Menengah (RAJM) Ekonomi Kreatif Indonesia. Image courtesy and copyright of Indonesia Kreatif.

Pada dokumen tersebut, Kementrian Parekraf dibawah kepemimpinan Ibu Marie Elka Pangestu telah menentukan acuan serta rencana kerja terkait Ekonomi Kreatif. Namun seperti yang sudah-sudah, rencana tersebut bisa jadi hanya akan menjadi rencana saja.

Karena pada era pemerintah Presiden Joko Widodo, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadi lembaga yang terpisah. Dimana Kementerian Pariwisata berdiri sendiri, sedangkan dibentuk sebuah lembaga negara baru pada 25 Januari 2015 yang bertugas khusus untuk menangani serta mengembangkan Ekonomi Kreatif di Indonesia, yaitu Badan Ekonomi Kreatif (BEK) yang dipimpin oleh Triawan Munaf (baca: Menunggu Sepak Terjang Badan Ekonomi Kreatif).

Apabila mengacu pada dokumen Rencana Aksi Jangka Menengah (RAJM) Ekonomi Kreatif Indonesia, maka saat ini industri ekonomi kreatif di Indonesia sudah memasuki tahap ke 3 dari 5 tahap, yaitu seperti yang dijelaskan pada gambar berikut ini.

Diagram rencana pengembangan Ekonomi Kreatif di Indonesia. Image courtesy and copyright of Indonesia Kreatif.

Fotografi adalah salah satu komponen dari 15 jenis industri kreatif yang berada di Indonesia. Yang oleh dokumen RAJM Ekonomi Kreatif Indonesia, fotografi didefinisikan sebagai berikut:

Sebuah industri yang mendorong penggunaan kreativitas individu dalam memproduksi citra dari suatu objek foto dengan menggunakan perangkat fotografi, termasuk di dalamnya media perekam cahaya, media penyimpan berkas, serta media yang menampilkan informasi untuk menciptakan kesejahteraan dan juga kesempatan kerja.

Sebagai sebuah industri yang mengandalkan kreativitas dalam menghasilkan produk/jasa, fotografi saat ini menjadi semakin beragam dan dapat dilakukan oleh semua orang. Saat ini di Indonesia banyak bermunculan para “pengusaha kreatif” dalam bidang fotografi. Mulai dari para fotografer yang melakukannya sebagai sebuah kegiatan sampingan, maupun yang benar-benar serius menekuni fotografi sebagai profesi. Tidak sedikit pula yang beralih dari profesi lain lantas kemudian menjadi seorang fotografer profesional.

Hal tersebut disadari betul oleh jajaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada tahun 2014, sehingga sebagai sebuah turunan dari dokumen Rencana Aksi Jangka Menengah (RAJM) Ekonomi Kreatif Indonesia lantas diterbitkan juga sebuah dokumen yang bertajuk Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015 – 2019.

Semoga dokumen tersebut, yang saya yakini belum secara maksimal terdistribusi kepada seluruh pemangku kepentingan, tidak lantas direvisi atau mengalami perubahan kembali pada era pemerintahan yang sekarang.

Karena untuk perubahan tentu akan membutuhkan diskusi yang panjang serta waktu yang tidak sebentar. Dan hal itu akan membuat industri kreatif di Indonesia akan semakin tertinggal.

Industri Hulu MIGAS dan Industri Kreatif

Pada industri hulu MIGAS, perusahaan-perusahaan yang terlibat didalamnya secara regulasi dan moral bisnis, juga memiliki kewajiban untuk membina serta mengembangkan komunitas dan masyarakat yang berada pada daerah operasional dimana mereka berada.

Bentuk keterlibatan perusahaan-perusahaan tersebut adalah salah satunya melalui kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility). Dimana CSR yang saat ini dilakukan mulai beranjak dari kegiatan yang sifatnya economic basis kepada kegiatan yang bersifat beyond economic.

Pembinaan UKM (Usaha Kecil Menengah) lebih dipilih untuk dilakukan ketimbang sekedar membangun infrastruktur (yang tidak saja membutuhkan waktu yang lama, melainkan juga dana yang tidak sedikit dan sering kali menimbulkan masalah pada saat proses pengadaan). Serta kegiatan CSR yang menyasar pengembangan kemampuan masyarakat sekitar daerah operasi, dan pelestarian lingkungan (flora dan fauna).

Program pendampingan yang dilakukan oleh perusahaan MIGAS terhadap UKM yang memproduksi kerajinan tangan, makanan serta komoditas lain merupakan sumbangsih industri hulu MIGAS terhadap masyarakat disekitar daerah operasi mereka.

Bersama Bang Arbain Rambey sharing mengenai Komunikasi Publik Industri Hulu MIGAS dengan pendekatan Ekonomi Kreatif.

Banyak perusahaan MIGAS yang memiliki daerah operasi yang berdekatan dengan daerah yang memiliki potensi pariwisata dan budaya yang luar biasa indah. Namun dikarenakan kemampuan pemerintah daerah dan pemerintah pusat yang terbatas, maka potensi tersebut belum terlampau mendapatkan publikasi dan penataan yang maksimal. Sehingga secara ekonomi, potensi tersebut belum memberikan sumbangsih yang signifikan terhadap masyrakat disekitar daerah operasi perusahaan MIGAS tersebut.

Nah, apakah cukup itu? Tentu bila ditanya demikian maka kita dapat menghidangkan daftar panjang mengenai apa saja yang dapat dibantu oleh industri hulu MIGAS terhadap perkembangan industri kreatif di Indonesia.

Tapi apakah hal itu masuk akal? Tentu saja tidak. Harus dipertimbangkan juga kemampuan serta kepentingan perusahaan-perusahaan tersebut, karena bagaimanapun mereka bukanlah lembaga sosial, melainkan lembaga bisnis yang harus mengasilkan keuntungan juga. Industri kreatif di Indonesia diharapkan tidak hanya kreatif tapi juga mandiri.

Saya menyaksikan sendiri geliat industri hulu MIGAS di Indonesia ketika saya masih bekerja sebagai seorang pekerja MIGAS yang dulu harus berkeliling dan pindah dari anjungan pengeboran minyak dan gas ke anjungan lain. Darat dan laut, dari ujung barat Indonesia sampai ujung Timur Indonesia, di dalam Indonesia maupun diluar Indonesia.

Dan hal tersebut berlanjut sampai dengan saat ini dimana saya memilih profesi sebagai fotografer yang fokus pada kebutuhan korporasi dan industri, geliat itu masih terus berdenyut dan semarak.

Namun, tidak jarang saya mendapati bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia ada yang masih mengandalkan layanan serta jasa yang disediakan oleh para fotografer dari luar Indonesia. Alasannya yang disampaikan kepada saya beragam, mulai dari hasil serta kualitas kerja, metode komunikasi, sampai dengan keharusan menggunakan fotografer dari luar Indonesia tersebut karena kebijakan yang berasal dari kantor pusat mereka diluar negeri. Hal ini biasanya terjadi pada perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing) yang memiliki kantor pusat diluar negeri. Padahal kualitas hasil karya para fotografer lokal tidak kalah bila dibandingkan dengan para fotografer dari luar negeri.

Apakah hal itu salah? Tentu saja tidak. Justru karena itulah maka para praktisi fotografer di Indonesia harus siap menerima persaingan. Terutama dengan akan hadirnya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) pada akhir tahun 2015 ini.

Namun demikian, kesiapan para fotografer lokal tentu tidaklah cukup, bila tidak mendapatkan kesempatan yang sama seperti yang didapatkan oleh para fotografer dari luar negeri. Industri Kreatif yang relatif lebih tahan terhadap krisis, tentu akan berjalan ditempat apabila tidak mendapatkan kesempatan tersebut (baca: Industri Kreatif Tahan Deraan Resesi Ekonomi).

Lomba Foto IPA Covention and Exhibition 2015

Kita patut bersyukur, karena IPA pada tahun ini kembali menyelenggarakan lomba foto IPA Convex untuk kali ke 3. Ini artinya, kesempatan terbuka bagi kita untuk dapat menunjukan kreatifitas dan kemampuan para fotografer lokal.

Industri hulu MIGAS menyadari bahwa metode komunikasi visual merupakan sebuah cara yang penting untuk dapat menyampaikan pesan mengenai industri mereka.

Lomba foto IPA Convex 2015 mengambil tema “Working Together” atau “Bekerja Bersama” tentu bukan tanpa maksud. Masih terkait dengan tema utama kegiatan IPA Convex 2015, lomba foto IPA kali ini ingin merangkum (secara visual) kebersamaan yang terjalin pada industri hulu MIGAS.

Semoga lomba foto ini dapat menjadi ajang adu kreatifitas fotografer lokal, serta menghasilkan karya-karya yang mampu menceritakan geliat industri hulu MIGAS di Indonesia.

Tahapan Lomba Foto

  • Tahap Kualifikasi: 1 April 2015 – 3 Mei 2015
  • Tahap Final: Pada saat pelaksanaan IPA Convex. Akan dipilih 36 foto terbaik
  • Durasi Pengiriman Foto: 1 April 2015 – 1 Mei 2015 (12.00 WIB)

Hadiah Lomba

  • Juara 1 – Trofi & Uang Tunai Rp. 10.000.000,-
  • Juara 2 – Trofi & Uang Tunai Rp. 8.000.000,-
  • Juara 3 – Trofi & Uang Tunai Rp. 6.000.000,-
  • Juara Favorit – Trofi & Uang Tunai Rp. 4.000.000,-

Ketentuan Lomba

  • Terbuka untuk umum (terkecuali fotografer profesional, karyawan IPA, anggota komiter IPA Convex, Event Organizer).
  • Foto yang dikirim harus dengan tema “Working Together“.
  • Setiap peserta dapat mengirimkan 2 buah karya foto.
  • Semua foto dalam format JPEG.
  • Ukuran file 2 MB (Maksimum 1600 pixel, resolusi 300 dpi).
  • Foto yang dilombakan diambil 1 tahun sebelum lomba foto.

Pengiriman Foto

Foto dikirim ke photo.competition@ipaconvex.com dengan menyertakan informasi lengkap berikut:

  • Judul Foto
  • Lokasi Foto
  • Nama Peserta
  • Alamat Peserta
  • Nomor Telepon Peserta
  • Alamat Email Peserta
  • Umur Peserta

Penjelasan lebih lengkap mengenai lomba foto IPA Convex 2015 dapat disimak pada tautan berikut ini.

Demikian. Semoga bermanfaat.

Advertisements

2 thoughts on “Geliat Industri Hulu Migas dan Industri Kreatif (Fotografi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s