Bisa punya kesempatan untuk traveling ke banyak tempat menjadi satu alasan utama ketika aku memilih menjalani fotografi secara serius, tepatnya sebagai fotografer industrial sejak Januari 2014 yang lalu.
Bagi banyak orang bisa jadi hal itu adalah hal konyol, karena menjadikannya sebagai alasan untuk berhenti dari pekerjaan yang sudah sangat mapan di perusahaan teknologi informasi kelas dunia. Apalagi kondisi seperti saat ini yang dirasakan sulit, terutama dalam aspek keuangan dan ekonomi.
Tapi, sejak masih bekerja di industri hulu migas dan pertambangan, hingga terakhir bekerja di sektor teknologi informasi itu, aku lumayan beruntung karena bisa traveling ke banyak tempat karena kewajiban pekerjaan; di dalam negeri atau luar negeri.
Dan sesuai tajuk artikel ini, aku ingin bercerita tentang penugasan industrial yang aku jalani di Maluku Utara, tepatnya di Pulau Obi.
Traveling dan Memotret
Bayangkan pada satu hari kamu bisa bepergian ke sebuah daerah yang sebelumnya tidak pernah kamu dengar. Apalagi ketika kamu mencari tahu tentang lokasi tersebut, kamu harus menempuh perjalanan dengan rute-rute yang sulit dan menantang.
Daerah-daerah seperti itulah yang kerap aku kunjungi sebagai seorang fotografer industrial.
Karakteristik lokasi industri yang kerap jadi destinasiku, mayoritas adalah daerah yang menantang dalam banyak aspek. Seperti kondisi jalanan yang tidak beraspal, ragam moda transportasi yang harus digunakan untuk bisa mencapai lokasi penugasan, durasi perjalanan yang harus ditempuh sejak dari Jakarta, sarana akomodasi yang tersedia, hingga pasokan catu daya yang minim, dll.
Kesannya sulit, memang begitu. Namun tidak jarang, lokasi penugasan yang serba terpencil justru menyuguhkan hal lain yang menggembirakan, seperti bertemu dengan warga lokal, kawan-kawan baru dari para pekerja dan bila beruntung, aku juga bisa mendapatkan suguhan pemandangan memukau.
Ada banyak hal yang bisa aku pelajari selama menjalani penugasan industrial di lokasi semacam itu.
Dan Pulau Obi adalah salah satunya. Sebuah pulau yang terletak di wilayah Maluku Utara dan jauh dari hiruk pikuk Jakarta.
Dalam beberapa tahun terakhir, nama Obi semakin sering muncul dalam banyak pemberitaan, karena aktivitas industri pertambangan yang berkembang pesat di kawasan tersebut.
Perjalanan menuju lokasi seperti Pulau Obi bukan sekadar perjalanan menuju ke lokasi kerja, buatku perjalanan semacam itu menyerupai perjalanan melintasi lapisan demi lapisan Indonesia: dari kota metropolitan yang serba modern, menuju lokasi yang pekat dengan sejarah peradaban rempah dunia, hingga tiba di kawasan industri yang tumbuh dan berkembang dengan pesat di pulau terpencil di timur Nusantara.
Berangkat dari Jakarta
Seperti pada penugasan-penugasan sebelumnya, perjalananku dimulai dari bandar udara Soekarno–Hatta di Tangerang, Provinsi Banten.
Dari Jakarta menuju Ternate, penerbangan memerlukan waktu sekitar 3,5 hingga 4 jam tergantung rute dan maskapai. Beberapa penerbangan transit terlebih dahulu di kota lain seperti Makassar atau Manado, sebelum tiba di Pulau Ternate.
Di titik ini saja sebenarnya kita sudah bisa merasakan betapa luasnya Indonesia. Dari jendela pesawat, lanskap perlahan berubah. Padatnya pemukiman di Pulau Jawa berganti menjadi hamparan gugusan pulau dan lautan luas yang biru, khas kawasan timur Indonesia.
Termasuk pada perjalanan kali ini menuju ke Pulau Ternate. Sebuah pulau yang menjadi gerbang utama menuju banyak wilayah di Maluku Utara.
Begitu tiba di bandar udara Sultan Babullah di Kota Ternate, suasana langsung berbeda dibanding Jakarta. Kota ini jauh lebih kecil, lebih tenang dengan sejarah yang panjang dan tegas. Di kejauhan, Gunung Gamalama berdiri besar seakan mengatapi Pulau Ternate.
Namun perjalanan belum selesai.
Menuju Pulau Bacan
Setelah tiba di Ternate, kami diajak ke salah satu penginapan klien kami untuk transit dan meluruskan badan dulu sekitar enam jam, sebelum kami kembali ke bandar udara Sultan Babullah dan melanjutkan perjalanan kembali menggunakan pesawat ATR milik maskapai Lion Air menuju Pulau Bacan.
Durasi penerbangan ke Pulau Bacan relatif singkat, sekitar 45 menit tergantung kondisi cuaca dan jenis pesawat. Pengalaman terbang di jalur ini selalu menarik karena memperlihatkan bentang alam kepulauan Maluku Utara dari udara.
Pulau-pulau kecil tersebar di tengah laut biru gelap. Sebagian tampak hijau dan nyaris tanpa permukiman besar. Aku sangat yakin bahwa wilayah ini masih menyimpan banyak sekali cerita yang tidak sekedar menarik, namun penting untuk diabadikan secara visual.
Setelah penerbangan selama 45 menit, kami tiba di bandar udara Oesman Sadik di Pulau Bacan. Sebuah bandara yang jauh lebih sederhana dibandingkan bandara di Pulau Ternate dengan ritme yang jauh lebih perlahan.
Setibanya di bandar udara Oesman Sadik di Pulau Bacan, kami langsung menuju ke pelabuhan Kupal yang menjadi titik pemberangkatan menuju ke Pulau Obi. Di pelabuhan itu ternyata sudah menunggu kapal cepat yang akan mengantarkan kami ke Pulau Obi.
Walaupun saat ini pelabuhan Kupal tidak tampak seperti sebuah sarana yang dikelola oleh sebuah industri besar, namun arus lalu lintas yang lumayan padat dan ramai dengan para pekerja tambang, logistik ukuran kecil memulai pelayarannya ke Pulau Obi dari pelabuhan ini.
Menyeberang Laut Menuju Obi
Tahap terakhir perjalanan menuju Pulau Obi ditempuh dengan speedboat yang dioperasikan oleh klien kami. Selain rombongan kami, satu per satu penumpang yang merupakan pekerja di lokasi tambang di Pulau Obi, mulai dipanggil untuk menaiki speedboat yang sudah menunggu kami.
Pelayaran ke Pulau Obi dari pelabuhan Kupal membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam hingga 4 jam tergantung cuaca, kondisi gelombang dan jenis speedboat yang digunakan.
Laut Maluku bisa sangat tenang, tetapi pada waktu tertentu juga dapat berubah cukup menantang dengan gelombang dan ombak yang tidak jarang membuat mereka yang sudah berkali-kali melintas di rute pelayaran itu harus menyerah dengan mabuk laut.
Sayangnya ketika itu pelayaran kami pada saat matahari sudah mulai terbenam itu diiringi hujan. Sehingga selama di perjalanan, tidak banyak pemandangan lautan lepas yang tidak terlampau bisa dinikmati. Selain itu keterbatasan pergerakan penumpang duduk di bagian luar belakang kabin juga sangat terbatas, karena alasan keamanan.
Namun demikian pelayaran malam itu tetap berkesan buat aku yang sudah dua kali melintas di jalur pelayaran itu.
Di momen seperti itu aku kerap merasa bahwa perjalanan menuju lokasi industri di Indonesia timur bukan hanya tentang pekerjaan, tetapi juga tentang memahami geografi negeri ini.
Tiba di Kawasan Industri & Rutinitas sebagai Fotografer Industrial
Ketika akhirnya tiba di Pulau Obi, suasana langsung berubah drastis. Dari perjalanan laut yang sunyi menuju kawasan industri yang lumayan sibuk, walau kami tiba di sana sudah menjelang pukul 21:45 WIT.
Tepat 23 jam kami menempuh perjalanan dari Jakarta dan akhirnya tiba di Pulau Obi.
Sejak sebelum speedboat kami merapat ke pelabuhan, Pulau Obi tetap terlihat meriah dengan kegiatan operasional pertambangan yang berlangsung selama 24 jam itu.
Di sinilah aku mulai memasuki rutinitas sebagai fotografer industrial.
Karena faktor keselamatan, man-haul (truk yang dimodifikasi menjadi bis untuk mengangkut penumpang) tidak boleh melebihi kecepatan yang sudah ditentukan, berjalan perlahan mengantarkan kami menuju ke living quarter (sarana akomodasi/penginapan).
Dan untuk kali ini, jadwal pemotretan di Pulau Obi lumayan padat. Kami sudah harus bersiap-siap sebelum matahari terbit kami sudah bersiap dengan semua perlengkapan yang dibutuhkan hingga perlengkapan pelindung pribadi atau PPE.
Di lokasi industrial faktor keselamatan kerja tidak dapat ditawar-tawar, termasuk di lokasi pertambangan nikel, keselamatan kerja adalah prioritas utama, seperti di lokasi kerja industrial lainnya.
Lokasi yang membutuhkan keseriusan dalam penggunaan Alat Perlindungan Diri (APD) atau PPE (Personal Protective Equipment) seperti helm, kacamata safety, rompi reflektif, sepatu safety, sarung tangan dan perlengkapan lainnya yang relevan.
Semua prosedur harus dipatuhi.
Sebelum masuk area tertentu, biasanya ada safety induction yang menjelaskan potensi risiko di lokasi kerja tersebut, terutama bagi para pengunjung baru. Sebagai fotografer, aku bukan hanya harus memikirkan komposisi visual, tetapi juga memahami area aman untuk bergerak dan bekerja.
Industri yang Tidak Pernah Tidur
Salah satu hal paling menarik dari kawasan industrial adalah ritme kerjanya yang hampir tidak berhenti. Aktivitas produksi dan operasional yang berlangsung siang dan malam. Dan pada penugasan industrial, aku mengikuti ritme kerja di lokasi tersebut.
Cahaya matahari yang rendah membuat detail situasi di lokasi industrial yang tidak jarang dilengkapi dengan kabut, dan kontur area di pagi hari biasanya menjadi waktu terbaik untuk memotret lanskap kawasan industri, dengan tujuan agar terlihat lebih dramatis.
Siang hari digunakan untuk mendokumentasikan aktivitas operasional:
- hauling ore
- stockpile
- conveyor
- workshop
- pelabuhan
- aktivitas pekerja
Sore hingga malam justru sering menjadi momen favoritku.
Ketika cahaya alami mulai hilang dan lampu industri menyala, kawasan smelter berubah menjadi lanskap visual yang sangat berbeda. Asap, cahaya tungsten, percikan api, dan struktur baja besar menciptakan atmosfer yang nyaris sinematik.
Ada momen-momen ketika saya berdiri di satu titik dan menyadari betapa kontrasnya lokasi ini dibanding gambaran umum tentang pulau-pulau tropis Indonesia.
Manusia di Balik Industri
Namun bagiku, inti fotografi industrial bukan hanya alat berat atau infrastruktur besar.
Yang paling penting tetap manusia.
- Operator alat berat
- Mekanik
- Welder
- Engineer
- Petugas pelabuhan
- Driver
- Tim keselamatan kerja
Mereka adalah bagian dari cerita besar industri yang sering tidak terlihat.
Sebagian datang dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagian lainnya adalah masyarakat lokal Maluku Utara yang kini bekerja di sektor industri.
Melalui perbincangan ringan dengan mereka tentang keseharian mereka, seperti tentang pekerjaan, tentang keluarga, rotasi atau jadwal kerja, tantangan hidup di lokasi terpencil, hingga harapan mereka terhadap industri ini, aku melakukan pendalaman untuk cerita yang sedang aku rangkum secara visual.


Percakapan-percakapan sederhana itu memberi perspektif yang lebih manusiawi dibanding sekadar angka produksi atau laporan korporasi.
Tantangan Memotret di Lokasi Industri
Memotret di kawasan industri seperti di Pulau Obi memiliki tantangan tersendiri.
Cuaca yang sangat cepat berubah, suhu yang di atas rata-rata, kelembapan tinggi yang bikin keringat bercucuran dan bagaimana dibutuhkan perhatian ekstra untuk peralatan dan perlengkapan memotret karena kondisi tersebut.
Selain itu, banyak momen industri berlangsung sangat cepat. Kadang hanya ada beberapa detik untuk mendapatkan frame tertentu sebelum situasi berubah.
Sebagai fotografer industrial, aku juga harus memahami alur kerja industri itu sendiri. Mengetahui kapan aktivitas tertentu berlangsung membantu menentukan posisi dan timing pengambilan gambar.
Dalam konteks ini, fotografi industrial bukan hanya soal estetika visual, tetapi juga kemampuan memahami proses bisnis dan operasional di lapangan.
Obi dan Perubahan Maluku Utara
Selama beberapa kali bekerja di wilayah ini, aku juga melihat bagaimana industri pertambangan perlahan mengubah ritme kehidupan di Maluku Utara.
Ternate semakin ramai, mobilitas pekerja meningkat, jalur logistik berkembang hingga wilayah yang dulu relatif sunyi, kini terhubung dengan rantai industri global.
Di sisi lain, diskusi tentang dampak lingkungan dan perubahan sosial juga semakin besar. Dan mungkin di situlah letak kompleksitas Maluku Utara hari ini.
Wilayah ini pernah menjadi pusat perebutan rempah dunia. Kini ia kembali menjadi wilayah strategis karena sumber daya mineralnya.
Komoditas memang berubah, tetapi perhatian dunia terhadap tanah ini tampaknya tidak pernah benar-benar hilang.
Perjalanan yang Selalu Memberi Perspektif Baru
Setiap kali kembali dari Obi menuju Jakarta, aku selalu merasa perjalanan ini lebih dari sekadar penugasan fotografi.
Ia adalah pengingat tentang betapa luasnya Indonesia, tentang bagaimana industri modern bekerja jauh dari pusat kota, dan tentang bagaimana masyarakat di wilayah-wilayah terpencil menjadi bagian dari rantai ekonomi global yang sangat besar.
Dari Jakarta menuju Pulau Ternate. Dari Ternate menuju Pulau Bacan, hingga dari Pulau Bacan menyeberang laut menuju Pulau Obi.
Perjalanan panjang itu membuat saya menyadari bahwa banyak cerita penting Indonesia justru berada jauh dari keramaian ibu kota.
Dan sebagai fotografer industrial, aku merasa beruntung bisa menjadi saksi kecil dari perubahan besar yang sedang berlangsung di timur Indonesia.
Oiya, kamu juga bisa menyimak artikel lainnya di Demi Obi, Ganti Pesawat 3 Kali dan Maluku Utara (Bumi Moloku Kie Raha); Tanah yang Tak Pernah Sepi jadi Rebutan!!
Kamu juga bisa menyimak rangkaian video blog yang dibuat pada penugasan industrial kali ini di Maluku Utara.
Discover more from Yulianus Ladung
Subscribe to get the latest posts sent to your email.